Oleh : Dr. Farid Said (Dosen Poltekpar Makasar)
PARADIGMA pariwisata global kini tengah bergeser dari sekadar wisata massal menuju pariwisata minat khusus yang berkelanjutan (sustainable tourism). Di Sulawesi Selatan, episentrum dari pergeseran ini terletak di dua mutiara pesisir selatan: Bira di Kabupaten Bulukumba dan Kepulauan Selayar.
Menyadari potensi raksasa yang belum tergarap maksimal tersebut, pendekatan akademis yang taktis dan membumi mutlak diperlukan untuk mengangkat daya saing destinasi ini di kancah nasional maupun internasional.
Langkah konkret untuk merespons tantangan ini diejawantahkan melalui program Project Based Learning (PBL) oleh mahasiswa Program Studi Usaha Perjalanan Wisata dari Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar.

Mengusung tema strategis “Inovatif Paket Wisata Berbasis Ekowisata Bahari,” program ini memilih Bira dan Selayar sebagai laboratorium alam dan budaya karena eksistensi produk wisatanya yang sangat komprehensif.
Kawasan ini tidak hanya menyajikan daya tarik pesisir pantai dan aneka ragam biota laut yang memukau, tetapi juga kekayaan budaya masyarakat pesisir yang otentik.
Selama empat hari masa observasi lapangan, mahasiswa semester 5 dan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) semester 7 tidak sekadar bertindak sebagai turis, melainkan sebagai analis dan perancang produk pariwisata.

Pendekatan PBL ini dirancang secara sistematis selama 3 bulan melalui beberapa tahapan krusial: mulai dari identifikasi masalah yang kerap dihadapi oleh industri travel, pelaksanaan survei dan observasi mendalam, hingga pelaporan dan desiminasi.
Puncak dari rangkaian ini adalah mempertemukan buyer dan seller melalui simulasi bisnis nyata dalam format Table Top di hadapan para pelaku biro perjalanan.
Hadir dalam observasi lapang Ketua Jurusan Perjalanan dan Ketua Program Studi, Mukarramah Mahmud, M.Pd., menggarisbawahi esensi dari kegiatan ini. Program PBL bukan sekadar pemenuhan beban Sistem Kredit Semester (SKS), melainkan wujud nyata implementasi mata kuliah yang harus memberikan dampak langsung (berdampak) bagi geliat industri pariwisata di lapangan.
Untuk memastikan validitas dan komprehensivitas data di lapangan, program ini berkolaborasi erat dengan para pemangku kepentingan lokal.

Pengurus Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bira, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Selayar, hingga jajaran pemandu selam dan praktisi pariwisata setempat turut hadir memperkuat kapasitas mahasiswa sebagai informan kunci termasuk DPD ASITA dan ASPPI Sulsel.
Sinergi pentahelix inilah yang menjadi nyawa dari inovasi pariwisata berkelanjutan.

Dari kacamata strategis, Dr. Farid Said selaku Ketua Tim Pelaksana Program menegaskan bahwa tujuan fundamental dari PBL ini adalah untuk meruntuhkan menara gading perguruan tinggi.
Program ini menjembatani kesenjangan (gap) antara dunia akademik di kampus dengan realitas dunia industri.
Outputnya jelas: mencetak lulusan Poltekpar Makassar yang memiliki kompetensi aplikatif di bidang perjalanan wisata dan siap diserap oleh industri. Tugas utama yang diemban para mahasiswa pun tidak main-main.
Mereka ditantang untuk meracik dan menghasilkan 7 jenis paket wisata berbasis budaya bahari yang tidak hanya menarik di atas kertas, tetapi juga layak dan kompetitif untuk dipasarkan oleh Travel Agent maupun Biro Perjalanan Wisata.
Kekayaan narasi sejarah dan biodiversitas alam menjadi bahan baku utama dari ketujuh paket inovatif tersebut. Di Bira, mahasiswa mengeksplorasi kawasan pembuatan perahu tradisional Pinisi yang jejak historisnya telah terekam abadi dalam naskah epik I La Galigo sejak abad ke-14, dipadukan dengan pesona terumbu karang Pantai Bira dan kawasan penangkaran penyu.
Sementara itu, ekspedisi di Kabupaten Selayar mengangkat kebanggaan historis berupa Gong Nekara artefak prasejarah yang terbesar di Asia Tenggara serta daya tarik Taman Wisata Laut Pantai Pinang dan eksotisme Pantai Barat.
Pada akhirnya, inovasi yang dikemas apik oleh para mahasiswa ini bukan sekadar menjadi tumpukan laporan akademis di perpustakaan kampus.

Ketujuh mahakarya paket wisata tersebut akan diserahkan untuk digunakan langsung oleh operator travel berskala nasional di Makassar, Bali, dan Lombok. Inisiatif terstruktur ini membuktikan bahwa dengan instrumen dan kurikulum yang tepat sasaran, mahasiswa dapat bertransformasi menjadi agen perubahan (agent of change) yang mengonversi potensi pasif sebuah daerah menjadi pendorong utama ekonomi sirkular.
Bira dan Selayar kini bersiap menyambut era baru pariwisatanya, sebuah era di mana keindahan bahari dan keluhuran budaya dijual dengan penuh kehormatan, edukasi, dan keberlanjutan. (*)



