Simfoni Hilirisasi PT Vale Indonesia: Merangkai Nilai Tambah, Menjaga Napas Bumi

MENITNEWS.CO.ID, ​SOROWAKO — Di balik gemuruh industri pertambangan, sebuah simfoni kehidupan sedang dimainkan dengan anggun di pesisir Danau Matano, Sorowako, Kabupaten Luwu Timur.

PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) membuktikan bahwa, hilirisasi bukan sekadar urusan mengolah bijih nikel mentah menjadi komoditas bernilai tinggi.

Melainkan sebuah komitmen utuh untuk merangkai nilai tambah bagi manusia, sekaligus menjaga napas bumi agar tetap lestari.

​Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), PT Vale melakukan “hilirisasi sosial-budaya” dengan menghidupkan kembali kerajinan Anyaman Teduhu dari Desa Nuha, dan Sampa Konao dari Desa Matano. Tanaman pakis hutan dan pelepah aren yang tumbuh liar di sekitar area konsesi, disulap oleh tangan-tangan terampil menjadi produk kriya bernilai ekonomi tinggi.

Langkah ini menjadi bukti nyata, bagaimana kekayaan alam bertransformasi menjadi pilar kemandirian ekonomi tanpa merusak ekosistem.

​Puncak dari simfoni ini menggema dalam ajang HKG PKK Nasional ke-54 dan HUT Dekranas ke-46 di Kota Makassar, pada Kamis-Sabtu, 9–11 Juli 2026.

Produk anyaman yang modis dan ramah lingkungan dari PT Vale Indonesia tersebut, sukses memikat Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, dan Wakil Ketua II Dekranas, Sri Suparni Bahlil Lahadalia.

“Kami tentu sangat bangga melihat semangat dan antusiasme para pengrajin, khususnya pengrajin muda yang terus bermunculan. Berkat pembinaan selama ini oleh perusahaan mitra ESDM seperti PT Vale Indonesia, banyak pengrajin muda yang penuh semangat dan sudah mengikuti berbagai coaching,” ujar Sri Suparni Bahlil, saat memberikan apresiasi di booth PT Vale Indonesia di sela-sela Pameran Dekranas Trans Studio Mall (TSM) Jalan Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar, Kamis, 9 Juli 2026.

Kehadiran mahakarya lokal di panggung nasional ini mengukuhkan bahwa, investasi sosial PT Vale Indonesia telah berhasil membangun ekosistem bisnis inklusif yang melestarikan warisan leluhur.

Bagi PT Vale Indonesia, pengenalan produk lokal seperti Anyaman Teduhu dan Sampa Konao, merupakan bagian dari strategi investasi sosial untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat secara jangka panjang.

Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), penguatan produk lokal ini difokuskan pada aspek keberlanjutan tradisi melalui program regenerasi yang terukur.

Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale Indonesia, Yusri Yunus, menjelaskan bahwa perusahaan menaruh perhatian besar pada keberlangsungan kearifan lokal.

“Prinsip kami adalah tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti Anyaman Teduhu dan Sampa Konao, memiliki daya saing tinggi dan tradisinya tetap lestari. Untuk itu, PT Vale Indonesia memberikan pendampingan. Mulai dari pengenalan bahan baku berkelanjutan, inovasi teknik menganyam, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), manajemen usaha, hingga membuka akses pasar seluas-luasnya,” jelas Yusri.

Sebagai bentuk dukungan konkret, PT Vale Indonesia kini membina dua komunitas, yaitu Komunitas Teduhu dari Desa Nuha (12 Pengrajin) yang mengolah pakis hutan, serta Komunitas Sampa Konao dari Desa Matano (10 Pengrajin Muda) yang mengolah pelepah pohon aren.

Salah satu Pengrajin Teduhu asal Desa Nuha, Yulianti, mengakui dukungan PT Vale Indonesia, telah membawa manfaat bagi Pengrajin di Desanya.

Tradisi menganyam yang sudah ada sejak tahun 1970-an silam, kini terus berkembang secara estetika dan variasi produk, sejak para Pengrajin mulai memanfaatkan serat teduhu pada tahun 2006 lalu.

“Bersama PT Vale Indonesia, kami bisa melakukan inovasi produk. Mulai dari kotak tisu hingga tas modern, sekaligus mengajak anak-anak muda di Desa untuk ikut menjaga tradisi ini agar tidak punah,” tutur Yulianti.

Secara terpisah, Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, mengatakan pendampingan kepada UMKM binaan dilakukan secara menyeluruh.

Mulai dari penyediaan sarana pendukung usaha, hingga penguatan kapasitas pelaku usaha.

Berbagai pelatihan rutin diselenggarakan mencakup manajemen usaha, pemasaran, proses produksi, pengembangan kualitas produk, hingga strategi branding dengan menghadirkan narasumber berpengalaman dari Tingkat Nasional.

“Selain peningkatan kapasitas, kami di PT Vale Indonesia juga terus memperluas akses promosi bagi UMKM binaan melalui partisipasi pada berbagai pameran. Termasuk bersama Kementerian ESDM, serta menghadirkan UMKM Gallery sebagai etalase permanen produk-produk binaan di sejumlah lokasi,” ungkap Endra.

Menurut Endra, Anyaman Teduhu dan Sampa Konao dipilih sebagai produk lokal yang ditampilkan di pameran, karena memiliki nilai budaya yang kuat, sekaligus menghadapi tantangan regenerasi Pengrajin.

“Dulu Pengrajinnya cukup banyak, tetapi sekarang mulai berkurang karena generasi muda kurang tertarik. Karena itu, kami melakukan pelatihan kepada anak-anak muda secara berkelanjutan, agar keterampilan ini tidak terputus dan tetap lestari,” imbuhnya.

​Keberlanjutan adalah inti dari setiap untaian anyaman ini. Sadar akan tantangan zaman, PT Vale Indonesia bergerak taktis menginisiasi regenerasi, dengan membina Pengrajin Muda usia 16 hingga 23 tahun.

Langkah ini adalah investasi jangka panjang, untuk memastikan keterampilan tradisional tidak punah ditelan modernitas. Para Pengrajin Muda dibekali pelatihan menyeluruh, mulai dari manajemen usaha, inovasi desain, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga pembukaan akses pasar global.

Senior Coordinator Media Relations

PT Vale Indonesia, Suwarny Dammar, menambahkan, untuk menjamin pasar yang berkelanjutan, PT Vale Indonesia mengintegrasikan produk kriya ini ke dalam rantai pasok korporat sebagai suvenir resmi, serta memasarkannya di semua jaringan hotel dan galeri.

“Sinergi erat bersama Kementerian ESDM dan Dekranas juga menegaskan paradigma baru pertambangan, bahwa kejayaan industri harus berjalan selaras dengan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam,” ujar Suwarny.

Di Sorowako, hilirisasi PT Vale Indonesia tidak hanya melahirkan nikel, tetapi juga merajut masa depan bumi yang hijau dan berdaya. (*)

Banner Sponsor

Iklan