MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) mencatatkan lompatan penting dalam agenda hilirisasi riset. Sebanyak 15 produk hasil penelitian dosen resmi mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Langkah ini membuka jalan bagi inovasi kampus untuk diproduksi, dipasarkan, dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Capaian ini menjadi pijakan awal yang kokoh bagi Unhas. Kampus merah ini menargetkan sekitar 200 produk inovasi lainnya untuk menyusul memperoleh legalitas serupa pada tahun ini.
Transformasi Riset: Dari Laboratorium ke Pasar

Bagi perguruan tinggi, keberhasilan sebuah penelitian tidak lagi hanya diukur dari jumlah publikasi ilmiah atau paten. Riset kini dituntut mampu bertransformasi menjadi inovasi nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat, menciptakan nilai ekonomi, serta mendukung pembangunan nasional.
Dalam konteks ini, izin edar BPOM menjadi tahapan strategis yang memastikan produk hasil penelitian memenuhi aspek keamanan, mutu, dan kelayakan sebelum hadir di tengah masyarakat.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. (Prof. JJ), menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan tonggak penting. Selama ini, tantangan terbesar kampus setelah menghasilkan penelitian unggul adalah memastikan inovasi tersebut memenuhi syarat regulasi.
“Kita patut berbangga karena salah satu persoalan utama selama ini adalah izin edar. Produk obat maupun pangan hasil riset sering kali berhenti pada tahap penelitian. Hari ini kita membuktikan bahwa inovasi kampus dapat memperoleh legalitas,” tegas Prof. JJ.
Sinergi ABG (Academia, Business, Government)

Penyerahan sertifikat izin edar BPOM ini dilakukan dalam kegiatan Akselerasi Kolaborasi Academia, Business, Government (ABG) di Ballroom Hotel Claro Makassar, Sabtu (11/7).
Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menegaskan bahwa BPOM tidak hanya berfungsi sebagai regulator, tetapi juga mitra strategis dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional.
“BPOM tidak sekadar memberikan stempel. Kami ingin memastikan produk hasil hilirisasi dapat berkembang, dipasarkan secara nasional, bahkan memiliki peluang untuk diekspor ke pasar global,” jelas Prof. Taruna.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Balai Besar POM Makassar, Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan, menambahkan bahwa kolaborasi erat adalah kunci agar hasil riset memberikan dampak ekonomi nyata, membuka peluang usaha, serta menciptakan lapangan pekerjaan.
Daftar Produk Inovasi dan Para Inovator Unhas
Sebanyak 15 produk yang berhasil memperoleh izin edar BPOM berasal dari berbagai inovasi pangan berbasis sumber daya lokal. Berikut adalah rincian produk beserta tim inovator di baliknya:
Ragam Produk Pangan Lokal yang Lolos BPOM:
Olahan Kelapa & Aren: Virgin Coconut Oil (VCO), minyak kelapa, gula aren cair, gula aren kubus, dan gula aren serbuk.
Olahan Rumput Laut: Mi rumput laut, cendol rumput laut, brownies rumput laut, muffin rumput laut, bakso rumput laut, nugget rumput laut, dan olahan rumput laut lainnya.
Kuliner & Minuman: Roti, sarabba, dan minuman Ginger Creamy.
Tim Inovator Unhas:
Prof. Dr. Ir. Amran Laga
Prof. Syahidah, S.Hut., M.Si., Ph.D.
Prof. Dr. Sartini, M.Si., Apt.
Dr. Sitti Fakhriyyah, S.Pi., M.Si.
Dr. Kasmiati, S.TP., M.P.
Irwan, S.TP., M.TP.
Menuju Target 200 Produk Inovasi
Langkah Unhas tidak berhenti di sini. Saat ini, sedikitnya 15 dosen pengusung lainnya tengah mempersiapkan proses pengajuan izin edar BPOM untuk produk inovasi gelombang berikutnya.
Dengan komitmen penuh dan target lebih dari 200 produk terlegalisasi tahun ini, Unhas terus memperkuat ekosistem inovasi demi memberikan manfaat yang konkret dan langsung dirasakan oleh masyarakat luas. (*)

