MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat penerapan tata kelola (governance), manajemen risiko, dan budaya integritas. Langkah ini diambil sebagai fondasi membangun sektor jasa keuangan yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 bertema “Future-ready Governance for Sustainable Growth and National Prosperity” yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa (14/7).
Pentingnya GRC Hadapi Risiko Global dan Siber

Anggota Dewan Komisioner OJK, Sophia Wattimena, menyatakan bahwa penerapan tata kelola yang kuat menjadi faktor kunci agar kebijakan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada kebijakan yang baik, tetapi juga pada tata kelola yang mampu menerjemahkannya menjadi hasil nyata bagi masyarakat,” ujar Sophia.
Sophia menjelaskan bahwa lanskap risiko global saat ini berkembang semakin cepat dan kompleks. Beberapa tantangan utama yang harus diantisipasi organisasi saat ini meliputi:
Risiko keamanan siber (cyber security).
Penyalahgunaan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).
Perubahan regulasi dan ketidakpastian geopolitik.
Dampak perubahan iklim.
Menurutnya, governance, risk, and compliance (GRC) kini bukan lagi sekadar instrumen kepatuhan, melainkan fondasi utama menjaga ketahanan organisasi. Penguatan GRC ini juga sejalan dengan Asta Cita ketujuh Pemerintah yang menitikberatkan pada reformasi birokrasi, pencegahan korupsi, dan tata kelola pemerintahan yang baik.
Menko Perekonomian: Tata Kelola Jaga Kepercayaan Investor
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI yang diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Ferry Irawan, turut memberikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa tata kelola yang baik merupakan fondasi kredibilitas kelembagaan dan kepastian berusaha.
“Tata kelola yang baik bukan sekadar masalah kepatuhan, tetapi fondasi yang memperkuat kredibilitas kelembagaan, memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor, serta mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Ferry.
Ferry menambahkan, konsep future-ready governance harus mampu mengantisipasi risiko sebelum berkembang menjadi krisis, terutama di tengah volatilitas pasar keuangan dan gangguan rantai pasok global.
Transformasi Digital Sebagai Katalis Kesejahteraan
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital RI yang diwakili oleh Direktur Jenderal Ekosistem Digital, Edwin Hidayat Abdullah, menekankan pentingnya peran teknologi. Transformasi digital harus menjadi pengungkit bagi peningkatan produktivitas nasional.
“Digitalisasi bukanlah tujuan akhir, melainkan pengungkit bagi seluruh sektor ekonomi demi kesejahteraan masyarakat,” tutur Edwin. Ia juga menambahkan bahwa tata kelola yang baik tidak akan menghambat inovasi, melainkan membangun kepercayaan publik.
Kolaborasi Global dan Antusiasme Generasi Muda
Forum RGS 2026 ini menghadirkan dua sesi diskusi panel serta sesi GRC insight yang membahas penguatan transparansi organisasi dan pembangunan budaya berbasis nilai (value-driven culture).
Acara ini berskala internasional dengan menghadirkan pakar dari dalam dan luar negeri, seperti:
Perusahaan Global & Lembaga Internasional: Meta, United Nations Office for Project Services (UNOPS), University of Antwerp, dan Orbis Business School.
Sektor Keuangan Domestik: Danantara Indonesia, PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Diikuti 20.000 Peserta dan Gelar Kompetisi Ilmiah
Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid ini diikuti oleh lebih dari 20.000 peserta, baik secara luring maupun daring. Peserta terdiri dari pimpinan lembaga jasa keuangan, asosiasi profesi GRC, regulator, hingga akademisi.
Sebagai bagian dari komitmen mendorong inovasi, OJK juga menggelar Innovation Paper Competition Volume 2 dengan tema “Building Digital Trust and Ethical Governance for Indonesia’s Future”. Kompetisi ini sukses menjaring 408 karya ilmiah dari 135 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Melalui RGS 2026, OJK berharap kolaborasi antara regulator, industri jasa keuangan, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan semakin kuat dalam membangun sektor keuangan yang kokoh menuju Visi Indonesia Emas 2045. (*)

