MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA – Hubungan antara Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dan induk organisasi sepak bola dunia (FIFA) berada di titik terendah. Penegasan boikot dari pihak Eropa terhadap kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino mengancam partisipasi wakil-wakil Benua Biru pada sejumlah agenda kejuaraan internasional dalam waktu dekat.
Sikap tegas tersebut disampaikan kembali oleh UEFA pada Kamis (6/8). Asosiasi menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada tanda-tanda pemenuhan syarat dari Infantino untuk menghentikan aksi pemboikotan tersebut.
UEFA secara terbuka membeberkan dua tuntutan utama yang harus dipenuhi FIFA jika ingin memulihkan situasi. Langkah pertama yang diminta adalah pembatalan rencana penjualan ajang-ajang kejuaraan berskala besar. Selain itu, FIFA juga dituntut memberikan kepastian hukum dan jaminan resmi agar langkah serupa yang dinilai merusak tatanan sepak bola tidak terulang di masa depan. Berdasarkan keterangan resmi UEFA yang dikutip dari AP, seluruh persyaratan dasar itu sama sekali belum ditindaklanjuti oleh pihak FIFA.
Perselisihan ini memberikan dampak langsung pada jadwal kompetisi yang telah teragenda. Merujuk pada kalender resmi di laman FIFA, terdapat lima kejuaraan penting yang terancam tanpa kehadiran negara-negara anggota UEFA jika jalan buntu ini terus berlanjut.
Ancaman absennya wakil Eropa membayang-bayangi ajang Piala Dunia Wanita U-20 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Polandia pada 5–27 September. Krisis ini juga berpotensi mengganggu helatan Piala Dunia Wanita U-17 2026 di Maroko pada 17 Oktober hingga 7 November, serta Piala Dunia U-17 2026 di Qatar yang rencananya digelar 19 November sampai 13 Desember.
Tidak berhenti di tingkat usia muda, dampak pemboikotan ini berisiko meluas ke panggung utama sepak bola putri, yakni Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil pada 24 Juni hingga 25 Juli. Turnamen bergengsi lainnya yang ikut terseret dalam pusaran konflik ini adalah Piala Dunia Antarklub Wanita.
Situasi di tingkat global kini diwarnai perebutan pengaruh dan perbedaan pandangan yang makin tajam. Sejumlah federasi negara anggota UEFA secara terbuka mulai menarik dukungan mereka dari kepemimpinan Gianni Infantino.
Di sisi lain, Infantino masih mengantongi dukungan kuat dari konfederasi luar Eropa, terutama sejumlah negara di kawasan Amerika Selatan, Asia, dan Afrika. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda kompromi dari kedua belah pihak untuk mengakhiri perseteruan politik di tubuh sepak bola dunia tersebut. (*)

