MENITNEWS.CO.ID, ATHENA — Peta perjalanan musim panas di Mediterania mengalami pergeseran signifikan sepanjang tahun 2026. Data pemesanan feri periode 1 Januari hingga 28 Juli 2026 mencatat adanya perubahan pola liburan para pelancong dunia di Kepulauan Yunani. Meskipun Santorini dan Mykonos selama ini dikenal sebagai ikon utama, para wisatawan kini mulai beralih ke pulau-pulau alternatif yang menyuguhkan suasana lebih tenang, harga terjangkau, serta pengalaman budaya yang mendalam.
Penurunan jumlah kunjungan paling kentara dialami oleh Santorini. Destinasi yang populer dengan pemandangan kubah birunya ini mencatatkan penurunan pemesanan feri dari sejumlah negara pasar utama. Pemesanan dari Australia merosot hingga 31,6 persen, disusul Britania Raya sebesar 25,8 persen, Italia 21,4 persen, Prancis 16,6 persen, serta Amerika Serikat sebesar 14,5 persen.
Kondisi tersebut bukan dipicu oleh hilangnya daya tarik keindahan alam Santorini, melainkan akibat lonjakan tarif akomodasi dan masalah kepadatan pengunjung. Situasi ini mendorong para pelancong untuk mencari destinasi yang menawarkan pengalaman yang lebih otentik dan bebas dari tekanan kerumunan massal.
Sebagai dampaknya, pulau-pulau di sekitarnya seperti Naxos dan Paros muncul sebagai pilihan favorit baru. Naxos menjadi tujuan utama bagi wisatawan yang mengincar kehidupan desa tradisional serta kuliner lokal, sedangkan Paros diminati oleh pelancong yang menginginkan perpaduan antara gaya hidup kelas atas dan ketenangan kawasan pesisir.
Di sisi lain, Milos mencatatkan kenaikan popularitas di kalangan wisatawan asal Amerika Serikat, Prancis, dan Australia berkat bentang alam vulkanik serta formasi geologisnya yang khas. Sementara itu, Pulau Sifnos semakin diminati turis dari Inggris dan Prancis, serta Skiathos yang terus mempertahankan daya tariknya bagi wisatawan asal Inggris, Italia, dan Prancis.
Fenomena menarik lainnya terlihat pada perilaku wisatawan asal Amerika Serikat yang cenderung memilih liburan di sekitar ibu kota Athena untuk menghindari perjalanan feri berdurasi panjang. Hal ini memicu Lonjakan pemesanan feri menuju Aegina sebesar 35,4 persen dibanding tahun 2025, serta Hydra sebesar 34,1 persen. Hydra menawarkan lingkungan unik bebas kendaraan bermotor dan warisan seni, sementara Aegina unggul lewat komoditas pistachio serta situs-situs arkeologinya.
Pertumbuhan lonjakan wisatawan terbesar justru dicatatkan oleh pasar Turki, yakni mencapai 53,9 persen—angka tertinggi di antara 15 pasar internasional utama. Lonjakan pesat ini dipicu langsung oleh penerapan skema visa jalur cepat oleh pemerintah Yunani yang mempermudah akses masuk ke pulau-pulau tertentu bagi warga negara tetangga tersebut.
Pergeseran pola kunjungan ini memberikan dampak positif bagi pemulihan daya dukung lingkungan dan perekonomian lokal. Terbaginya arus wisatawan dari titik-titik jenuh seperti Santorini dan Mykonos membantu mengurangi beban pada sumber daya air dan sistem pengelolaan limbah. Pengeluaran wisatawan kini terdistribusi secara lebih merata ke kedai-kedai kecil milik keluarga serta pengrajin lokal di pedesaan.
Guna mengoptimalkan kunjungan pada musim 2026, para wisatawan diimbau mempertimbangkan sejumlah langkah strategis. Kunjungan pada periode peralihan di akhir September disarankan untuk menghindari puncak keramaian bulan Juli dan Agustus, saat harga feri mulai turun namun perairan Aegea masih hangat. Turis yang mengunjungi Hydra diminta menghormati keledai dan bagal sebagai moda transportasi utama, sementara pengagum pantai di Milos disarankan menyewa kendaraan 4×4 untuk menjangkau area terpencil. Di Aegina, wisatawan dianjurkan membeli produk pistachio langsung dari koperasi lokal guna menyokong petani daerah.
Secara keseluruhan, prospek pariwisata Yunani dinilai tetap positif dalam jangka panjang. Langkah diversifikasi destinasi ini meminimalisasi risiko tenggelam dalam isu overtourism, sekaligus menandai peralihan industri dari sekadar popularitas nama menjadi fokus pada kualitas pengalaman perjalanan. (*)

