MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Kementerian Transmigrasi resmi memperkuat sinergi dengan sektor pendidikan tinggi guna memacu kualitas sumber daya manusia (SDM) di wilayah Indonesia Timur. Langkah strategis ini diawali melalui kunjungan kerja Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, ke Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk membahas kerja sama lanjutan, termasuk rencana penyediaan kampus satelit.
Pertemuan tersebut menjadi bentuk respons atas undangan Rektor Unhas sekaligus wujud apresiasi pemerintah terhadap peran Unhas sebagai pusat keunggulan (center of excellence) di kawasan timur nusantara. Peningkatan mutu SDM dinilai sebagai faktor krusial agar kawasan timur mampu mengejar ketertinggalan dari wilayah barat.
Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, menegaskan bahwa kehadiran SDM unggul di pelosok daerah sangat diperlukan untuk mengelola kekayaan alam secara mandiri. Keterbatasan kapasitas SDM lokal di kawasan terpencil selama ini kerap memicu pemanfaatan sumber daya oleh pihak luar secara tidak sah.

“Banyak orang asing yang berbisnis dan hadir di pelosok Indonesia tanpa kita ketahui, bahkan banyak yang dilakukan secara ilegal. Sebagaimana pesan Bapak Presiden, jangan sampai negaranya kaya tetapi rakyatnya miskin. Inilah tugas dan tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah maupun dunia pendidikan,” kata Sulaiman saat ditemui di Kampus Unhas, Selasa (11/8/2026).
Ia meyakini perguruan tinggi di Makassar ini sanggup berperan sebagai mercusuar perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan bagi kawasan timur Indonesia.
Di sisi lain, kesiapan kawasan transmigrasi terus dimaksimalkan lewat program kolaboratif seperti Transmigrasi Patriot yang mendapat respons positif dari pemerintah daerah dan warga setempat. Dampak nyata kegiatan ini sudah terlihat sejak tahun lalu, meski saat itu dukungan pemerintah masih terbatas pada penyediaan anggaran pemetaan potensi ekonomi serta riset.
Baca juga: Pemerintah Pastikan Serap Telur dan Daging Ayam Peternak Lokal untuk Program Makan Bergizi Gratis
Para mahasiswa dan akademisi yang diterjunkan ke lapangan melakukan berbagai aksi sosial di luar kegiatan penelitian. Di kawasan transmigrasi Papua, misalnya, jajaran sivitas akademika membantu membangun fasilitas air bersih, sementara di daerah lain mereka mendirikan ruang belajar bahasa Inggris (English Corner) hingga kegiatan ekstrakurikuler warga.
Guna memperluas jangkauan manfaat, Kementerian Transmigrasi meningkatkan alokasi dukungan pada tahun ini. Pemerintah tidak hanya menyediakan anggaran riset, tetapi juga menyalurkan dana pengabdian masyarakat untuk sekitar 200 tim yang disebar ke berbagai pelosok.
Skema bantuan ini diarahkan untuk memberikan solusi langsung terhadap kendala yang dihadapi warga lokal. Program percepatan ini menyasar 53 kawasan transmigrasi, dengan fokus utama pada 10 titik di wilayah Papua serta beberapa kawasan prioritas di Pulau Sulawesi. (*)

