Membangun Regenerasi Petani dan Ketahanan Pangan Nasional dari Desa melalui Sikola P4S Lamellong

MENITNEWS.CO.ID, BONE — Ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan pangan di pasar, tetapi juga sangat ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang mengelola sektor pertanian. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika kebutuhan pangan, Indonesia memerlukan generasi penerus yang berpengetahuan, terampil, serta adaptif terhadap tuntutan zaman.

Tantangan utama yang dihadapi sektor ini adalah regenerasi petani. Data Sensus Pertanian 2023 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia memiliki 25,12 juta rumah tangga usaha pertanian dan 27,37 juta rumah tangga petani. Angka tersebut mengindikasikan betapa besarnya peran masyarakat dalam menopang sektor pangan sekaligus menegaskan krusialnya keberlanjutan SDM di bidang ini.

Keberlanjutan pertanian tidak sekadar bertumpu pada jumlah pelaku usaha tani, melainkan pada kapasitas mereka dalam menghadapi tantangan yang makin kompleks. Generasi muda membutuhkan akses pendidikan, teknologi, informasi, dan kemampuan pengembangan usaha agar sanggup beradaptasi dengan perubahan.

Dalam konteks tersebut, Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) memegang peran strategis sebagai wadah pembelajaran berbasis masyarakat. P4S hadir memberikan ruang peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan, praktik lapangan, pendampingan, hingga pertukaran pengalaman.

Melalui pembelajaran berbasis praktik, P4S menjadi tempat bagi masyarakat untuk mengenali permasalahan di lapangan, mempelajari solusi, dan menerapkan inovasi secara langsung sesuai kondisi setempat. Peran ini makin krusial seiring masuknya teknologi modern seperti sistem irigasi hemat air, sensor, Internet of Things (IoT), pengolahan data, hingga pertanian presisi. Penerapan inovasi ini membutuhkan SDM yang paham cara kerja, penggunaan, dan manfaatnya.

Baca juga: UKM KPI Unhas Perkuat Kelembagaan Petani Bone Lewat Sikola P4S

Transformasi pertanian pun harus berjalan selaras dengan penguatan kapasitas manusia. Petani tidak hanya perlu diperkenalkan pada teknologi modern, tetapi juga harus mampu mengoperasikan, menilai manfaat, serta menyesuaikannya dengan kebutuhan usaha tani. Langkah ini sejalan dengan arah pembangunan SDM pertanian yang didorong pemerintah melalui penguatan kompetensi, kelembagaan, dan regenerasi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa regenerasi petani merupakan pilar penting dalam mendukung agenda swasembada pangan. Menurutnya, generasi muda harus dipersiapkan agar memiliki kompetensi dan kemampuan mengambil peran dalam pembangunan pertanian, terutama lewat pemanfaatan teknologi dan penguatan kapasitas usaha.

Semangat penguatan SDM tersebut diwujudkan secara nyata melalui Sikola P4S Lamellong. Program ini merupakan bagian dari inisiatif MANNENNUNGENG yang digagas Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Sikola P4S Lamellong difokuskan untuk memperkuat fungsi P4S sebagai pusat pembelajaran masyarakat desa. Penguatan ini dilakukan melalui penyusunan modul, pengembangan kurikulum manajemen kelembagaan, serta pendampingan sistem pembelajaran yang berkelanjutan.

Baca juga: UKM KPI Unhas dan Pemcam Barebbo Sepakati Kerja Sama Pengembangan Smart Farming di Desa Kajaolaliddong

Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin, Muh Fadel S., menjelaskan bahwa penguatan P4S dalam inisiatif MANNENNUNGENG tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, melainkan juga pada pembangunan kelembagaan sebagai ruang belajar dan pengembangan inovasi.

Pihaknya memandang P4S sebagai ruang belajar bersama yang mempertemukan pengalaman petani lokal dengan pengetahuan serta teknologi baru. Melalui Sikola P4S Lamellong, timnya ingin mendorong masyarakat agar memiliki kapasitas dalam mengelola kelembagaan, mengadopsi inovasi, dan mengembangkan pertanian secara mandiri. Muh Fadel berharap penguatan jangka panjang ini mampu membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk melihat pertanian sebagai sektor yang modern, inovatif, dan menjanjikan.

Melalui pendekatan menyeluruh, petani tidak hanya diajarkan teknik budidaya, tetapi juga pengelolaan organisasi, perencanaan usaha tani, jejaring kemitraan, dan pemanfaatan teknologi produksi.

Dalam ekosistem MANNENNUNGENG, proses belajar diperkuat dengan pengenalan berbagai inovasi praktis, seperti sistem Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis IoT untuk efisiensi air. Selain itu, dikembangkan pula pengolahan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik serta pakan ternak, penerapan pola tanam Jajar Legowo, penggunaan varietas unggul, hingga pengendalian hama ramah lingkungan.

Inovasi-inovasi tersebut dipelajari langsung melalui praktik di lapangan. Model transfer teknologi berbasis praktik ini memudahkan masyarakat memahami manfaat teknologi sebelum menerapkannya di lahan sendiri.

Baca juga: Perkuat Kolaborasi, Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas Hadiri Bakti Sosial dan Audiensi Bersama Bupati Bone

Di samping peningkatan individu, penguatan Sikola P4S Lamellong menyasar kapasitas organisasi. Kelembagaan yang kuat dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan proses belajar, membuka peluang kemitraan, serta mengelola kegiatan secara terarah meski masa pendampingan telah usai.

Bagi generasi muda, hadirnya ekosistem pembelajaran ini membuka cara pandang baru. Sektor pertanian tak lagi diidentikkan dengan kerja fisik konvensional, melainkan sebagai bidang prospektif yang dikembangkan berbasis teknologi, inovasi, dan kewirausahaan.

Inisiatif dari Desa Kajaolaliddong ini membuktikan bahwa penyiapan SDM dan penataan lembaga dari tingkat desa dapat menjadi kunci dalam mencetak generasi penerus yang adaptif. Pada akhirnya, mewujudkan ketahanan pangan nasional berawal dari penyiapan manusia di balik proses produksi agar siap membawa pertanian Indonesia menuju era yang lebih modern dan berkelanjutan. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan