MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai hampir Rp1,8 miliar bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bantuan tersebut disalurkan melalui gerakan BPOM Peduli Kemanusiaan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di sejumlah wilayah Pulau Flores.
Selain menyalurkan bantuan, BPOM juga mendirikan Posko BPOM Peduli sebagai pusat layanan kemanusiaan sekaligus ruang pemulihan bagi masyarakat terdampak dan relawan yang bertugas di lapangan.
Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mengatakan penanganan bencana tidak hanya membutuhkan respons cepat, tetapi juga kehadiran yang mampu memberikan rasa aman dan harapan kepada masyarakat.
“Empati tidak boleh berhenti menjadi rasa iba. Empati harus hadir dalam tindakan. BPOM datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi hadir sebagai sahabat dan saudara bagi masyarakat NTT. Mereka tidak sendiri menghadapi masa sulit ini,” kata Taruna.
Gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA. Episentrum gempa berada di Laut Flores, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Baca Juga : Kepala BPOM dan KSP Bahas Penguatan Regulasi Hingga Kemandirian Obat Nasional
Gempa utama tersebut kemudian diikuti rangkaian gempa susulan yang berdampak terhadap sejumlah wilayah di Pulau Flores. Kondisi tersebut menimbulkan kebutuhan kemanusiaan dalam skala besar.
BPOM Peduli menyalurkan bantuan berupa dana kemanusiaan sebesar Rp500 juta. Selain itu, BPOM juga menyalurkan bantuan produk senilai Rp1.297.565.688.
Bantuan produk tersebut terdiri atas makanan, minuman, suplemen kesehatan, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan dasar lainnya.
Dengan demikian, total dukungan yang disalurkan BPOM untuk masyarakat terdampak gempa NTT mencapai Rp1.797.565.688.
Penyaluran bantuan tersebut juga melibatkan dunia usaha. Direktur Utama PT Sido Muncul Tbk. Irwan Hidayat hadir mewakili pelaku usaha dalam penyerahan bantuan kemanusiaan.
Taruna mengatakan keterlibatan dunia usaha menjadi bagian penting dari semangat gotong royong untuk mempercepat penanganan dan pemulihan masyarakat pascabencana.
Menurut dia, bantuan BPOM diarahkan untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendesak, mulai dari logistik darurat, makanan dan minuman, suplemen kesehatan, obat-obatan hingga kebutuhan dasar lainnya.
Dukungan khusus juga disiapkan bagi pegawai BPOM dan keluarganya yang turut terdampak bencana.
Mengacu pada data penanganan bencana yang diterima dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Taruna menyebut korban meninggal dunia akibat gempa mencapai 105 orang.
Sementara itu, sebanyak 1.678 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Jumlah masyarakat yang masih berada di pengungsian mencapai sekitar 179.037 jiwa.
Pengungsi tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.
Kepala BPOM, Taruna menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang meninggal dunia. Menurutnya, besarnya dampak bencana menunjukkan bahwa proses pemulihan harus dilakukan secara menyeluruh.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Hadapi Lonjakan Diabetes dan Obesitas, BPOM Hadirkan Pilihan Baru Terapi Penyakit Metabolik
Pemulihan, kata dia, tidak cukup hanya dengan membangun kembali fasilitas fisik yang rusak. Luka psikologis yang dialami masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, serta keluarga yang kehilangan anggota keluarga, juga harus mendapat perhatian.
Sebagai bagian dari respons kemanusiaan, BPOM mendirikan Posko BPOM Peduli di NTT.
Posko tersebut tidak hanya difungsikan sebagai lokasi distribusi bantuan, tetapi juga menjadi ruang pemulihan bersama bagi warga terdampak dan relawan yang bekerja di lapangan.
Posko BPOM Peduli mengusung pendekatan yang ramah komunitas dan humanis. Sejumlah layanan disediakan, antara lain konseling trauma, ruang istirahat, dukungan kebutuhan dasar, serta warkop transit.
Layanan konseling trauma melibatkan keluarga besar BPOM bersama tenaga pendamping profesional. Pendampingan diprioritaskan kepada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan yang mengalami tekanan psikologis akibat bencana.
Sementara itu, warkop transit disediakan sebagai ruang bagi para relawan untuk beristirahat, menikmati makanan dan minuman ringan, berbincang, serta memulihkan tenaga sebelum kembali menjalankan tugas kemanusiaan.
“Kita belajar bahwa kekuatan kemanusiaan selalu lebih besar daripada bencana. Posko BPOM Peduli bukan sekadar bangunan atau tempat menyalurkan bantuan. Ini adalah rumah bersama untuk saling menguatkan—warga, relawan, tenaga kesehatan, pemerintah, dan semua pihak yang bekerja untuk NTT,” ujar Taruna.
Di tengah kondisi darurat, BPOM juga memastikan aspek keamanan obat dan pangan tetap menjadi perhatian.
Pengawasan dilakukan untuk memastikan obat, makanan, minuman, dan suplemen yang diterima masyarakat terdampak memenuhi aspek keamanan, mutu, serta kelayakan konsumsi.
Taruna menegaskan kondisi bencana tidak boleh menyebabkan standar perlindungan masyarakat terhadap obat dan pangan diabaikan.
“Masyarakat terdampak bencana tetap memiliki hak yang sama untuk memperoleh obat dan pangan yang aman dan bermutu. Karena itu, selain membawa bantuan, BPOM menjalankan tanggung jawab pengawasan agar bantuan yang sampai kepada masyarakat benar-benar memberikan manfaat,” katanya.
Kegiatan kemanusiaan tersebut turut dihadiri Direktur Utama PT Sido Muncul Tbk. Irwan Hidayat, Wakil Bupati Ende Dr. drg. Dominikus Minggu Mere, M.Kes., Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada, S.Sos., Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat Safrianus Haryanto Djehaut, M.Si., serta jajaran pimpinan tinggi madya dan pratama BPOM.
Hadir pula Staf Khusus/Pakar Ahli Kepala BPOM dr. Wachyudi Muchsin dan Arina Arsyad, Kepala Balai Besar POM di Kupang Drs. Sem Lapik, Apt., M.Sc., Kepala Balai POM di Ende Eko Agus Budi Darmawan, S.F., Apt., M.Pharm., serta Kepala Loka POM di Kabupaten Manggarai Barat Imanulkhan, STP., M.Sc.
Taruna berharap gerakan BPOM Peduli dapat menjadi bagian dari gerakan gotong royong yang lebih luas untuk membantu masyarakat NTT bangkit dan memulihkan kehidupan setelah bencana.
Menurutnya, keberhasilan misi kemanusiaan tidak hanya diukur dari besarnya nilai bantuan, tetapi juga dari seberapa dekat kehadiran tersebut dirasakan oleh masyarakat yang sedang menghadapi kehilangan dan membutuhkan harapan.
“Nilai bantuan dapat dihitung dengan rupiah, tetapi nilai kepedulian tidak bisa diukur dengan angka. Ketika saudara-saudara kita menghadapi bencana, tugas kita adalah hadir. Empati menghadirkan kita sebagai sahabat, kepedulian menyatukan kita sebagai saudara. NTT tidak sendiri,” pungkas Kepala BPOM RI, Taruna. (*)


