MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Sebanyak 50 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) penyandang disabilitas di wilayah Jabodetabek berhasil menyelesaikan rangkaian pembinaan kapasitas usaha dan inkubasi bisnis dalam program UMKM BERDAYA 2026.
Puncak dari program pemberdayaan tersebut ditandai dengan penganugerahan UMKM BERDAYA Awards 2026 yang berlangsung di Arumaya Financial Center, Jakarta, Selasa (29/9/2026). Ajang ini mengapresiasi sepuluh UMKM terbaik yang dinilai berhasil mengembangkan skalabilitas usaha serta melakukan inovasi produk.
Dalam penganugerahan tersebut, usaha perawatan tubuh organik Dewijaya Care terpilih sebagai UMKM BERDAYA of the Year. Sementara itu, predikat Most Inspirational Business Journey diraih oleh Stafi Food yang memproduksi makanan beku bebas pengawet, dan penghargaan Most Innovative Product diberikan kepada usaha kuliner Karina The Kitchen.
Dorong Literasi dan Penyerapan Produk

Program yang diinisiasi oleh Asuransi Astra bekerja sama dengan Enably ini dirancang untuk menjawab tantangan utama yang kerap dihadapi wirausahawan disabilitas, seperti keterbatasan akses pembinaan bisnis, literasi keuangan, hingga jaringan pemasaran.
Selama periode pendampingan, para peserta dibekali materi manajemen pembukuan keuangan, strategi pemasaran digital, hingga teknik presentasi produk (pitching). Selain pelatihan teoritis, produk-produk peserta diserap secara langsung untuk memenuhi kebutuhan operasional internal perusahaan penyelenggara sebagai bentuk perluasan akses pasar.
President Director Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus, menyampaikan bahwa penyediaan ruang dan kesempatan yang setara menjadi kunci utama bagi kemandirian ekonomi pelaku usaha disabilitas.
“Bagi kami, inklusivitas bukan sekadar memberikan kesempatan untuk berpartisipasi, tetapi memastikan setiap individu memiliki ruang untuk menunjukkan kemampuan dan menciptakan pencapaiannya sendiri,” kata Maximiliaan dalam keterangan tertulis yang diterima Menitnews.co.id.
Inovasi dan Aksesibilitas Produk

Inisiator Dewijaya Care, Dewi Winarti Roro Shanti, mengungkapkan bahwa pembinaan yang mudah diakses memberikan dampak langsung terhadap kepercayaan diri para pelaku usaha difabel (difabelpreneur). Produk perawatannya yang menggunakan bahan organik bersertifikat dan kemasan daur ulang kini dinilai lebih siap bersaing di pasar umum.
“Program ini memberikan ruang bagi kami untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman dengan cara yang mudah dipahami. Penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus mengembangkan usaha,” ujar Dewi melalui keterangan tertulis.
Isu inklusivitas juga diterapkan pada rantai produksi peserta lain, seperti Stafi Food. Usaha olahan pangan sehat tanpa MSG dan terigu yang didirikan Afifah Luthfiyyah ini memberdayakan penyandang disabilitas serta penyintas autoimun sebagai bagian dari tim produksinya.
Tantangan Ekosistem UMKM Inklusif
Meski keberhasilan program pembinaan di Jabodetabek memberikan angin segar, model pemberdayaan berbasis penyerapan produk lokal dan inklusivitas ini menjadi catatan penting bagi pengembangan ekonomi warga di daerah lain, termasuk di Sulawesi Selatan. Tantangan integrasi pasar, standardisasi izin usaha, hingga jangkauan modal bagi UMKM disabilitas masih memerlukan perhatian kolaboratif antara pemerintah daerah dan sektor swasta. (*)



