Mengintip Pemukiman Tak Biasa di Mancanegara: Dari Kota Bawah Tanah hingga Rumah Panggung Permafrost

Colma, California (Amerika Serikat) (Sumber: Risyad and Son/Foto: New York Times)

MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Tantangan tata ruang, kondisi iklim ekstrem, hingga keterbatasan lahan mendorong sejumlah komunitas di berbagai negara membangun tempat tinggal dengan cara yang sangat tidak biasa.

Mulai dari hunian di dalam gua bekas tambang, pemukiman di atas lapisan es abadi, hingga kawasan pemakaman yang mendominasi suatu wilayah, gaya hidup unik ini menjadi bukti bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungannya.

Di Coober Pedy, Australia, misalnya, gelombang suhu panas yang mencapai 48 derajat Celsius saat musim panas memaksa mayoritas penduduk tinggal di bawah tanah. Sekitar 80 persen warga memanfaatkan bekas lubang tambang batu opal sebagai hunian. Suhu di dalam gua buatan tersebut stabil di kisaran 23 derajat Celsius tanpa mengandalkan pendingin udara (AC), lengkap dengan fasilitas umum seperti gereja, toko, dan hotel.

Langkah adaptasi bentang alam juga terlihat di Longyearbyen, Norwegia, kawasan dekat Kutub Utara yang mengalami fenomena empat bulan tanpa matahari dan empat bulan terang benderang. Seluruh rumah kayu di kawasan ini dibangun berfondasi panggung agar panas bangunan tidak mencairkan lapisan permafrost (es abadi) di bawahnya. Cat warna-warni cerah turut diterapkan pada dinding rumah guna meminimalkan risiko depresi warga akibat minimnya paparan sinar matahari.

Selain merespons iklim, faktor keamanan masa lalu serta keterbatasan lahan turut melahirkan kota raksasa. Kota kuno Derinkuyu di Kapadokia, Turki, yang memiliki kedalaman hingga 85 meter dengan 18 lantai bawah tanah, dibangun sebagai tempat perlindungan dari serangan musuh. Kota ini sanggup menampung hingga 20.000 orang beserta hewan ternak, lengkap dengan saluran ventilasi dan pintu batu dari dalam.

Sementara itu, fenomena sosial keterbatasan hunian juga tampak di Las Vegas, Amerika Serikat. Di balik kemewahan kota tersebut, ribuan tunawisma terpaksa berlindung di dalam saluran air bawah tanah. Meski menjadi tempat bernaung, lokasi sempit dan lembap ini menyimpan risiko fatal saat badai menerjang dan memicu arus air deras.

Masalah keterbatasan lahan pemakaman di San Francisco pada awal abad ke-20 pun melahirkan Colma di California, Amerika Serikat. Larangan penguburan baru memicu pemindahan massal kuburan ke Colma, sehingga saat ini terdapat sekitar 1,5 juta makam di kota yang tetap beroperasi normal dengan infrastruktur publik layaknya pemukiman biasa tersebut.

Uniknya pemukiman juga menjadi daya tarik lanskap, seperti di Huacachina, Peru—sebuah desa oasis di tengah lautan pasir gurun yang kini berkembang sebagai pusat wisata—serta Mirror Cube di Swedia, hotel pohon berkaca reflektif yang menggunakan stiker ultraviolet khusus agar aman dari tabrakan burung.

Ragam penataan ruang ekstrem di berbagai belahan dunia ini memberikan gambaran pentingnya inovasi arsitektur dan penataan pemukiman yang tanggap iklim serta berbasis lingkungan. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan