MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Makassar, konsolidasi organisasi dan penguatan soliditas kader menjadi perhatian penting dalam mempersiapkan kepemimpinan baru.
Musda diharapkan menjadi momentum untuk menyatukan visi, memperkuat rekonsiliasi internal, serta membentuk kepengurusan yang profesional dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Salah satu pengurus harian Partai Golkar, Multazan Haseng, S.H., C.Med., menilai kepemimpinan di bawah Dr. Supriansa, S.H., M.H., diharapkan mampu membawa energi pembaruan bagi perkembangan dan kebesaran Partai Golkar di Kota Makassar.
Multazan yang selama ini berkecimpung di wilayah industri Makassar menegaskan, penyusunan kepengurusan mendatang harus dilakukan secara cermat, objektif, dan profesional. Penempatan kader perlu mempertimbangkan kapasitas, kompetensi, loyalitas, rekam jejak, serta kontribusi nyata terhadap perkembangan partai.
“Golkar Makassar membutuhkan kepengurusan yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga solid dalam bekerja, kompak dalam mengambil keputusan, dan mampu hadir di tengah masyarakat. Musda harus menjadi ruang konsolidasi dan rekonsiliasi bagi seluruh kader, bukan justru memperlebar perbedaan,” ungkap Multazan Haseng, Minggu (11/10/2026).
Menurutnya, dinamika menjelang Musda merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi politik. Namun, perbedaan pandangan harus disikapi secara dewasa agar tidak mengganggu persatuan dan soliditas internal partai.
Ia menekankan, kepentingan organisasi harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Karena itu, Golkar Makassar perlu membangun tradisi politik yang sehat dengan menghargai pengabdian kader serta memberikan ruang kepada mereka yang memiliki komitmen kuat untuk membesarkan partai.
“Partai sebesar Golkar harus mampu menghadapi dinamika politik dengan kedewasaan. Siapa pun yang memimpin, kepentingan organisasi harus tetap di atas kepentingan pribadi. Kita perlu membangun tradisi politik yang sehat, menghargai pengabdian kader, dan memberikan ruang kepada mereka yang benar-benar ingin membesarkan partai,” tegasnya.
Lebih lanjut, Multazan berharap konsolidasi yang melibatkan para pimpinan kecamatan (Pincam) tidak hanya menjadi agenda administratif untuk mempersiapkan Musda. Konsolidasi tersebut harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyerap aspirasi kader di tingkat bawah, memperkuat komunikasi antarpengurus, serta merumuskan strategi politik yang realistis dan terukur.
Menurutnya, keberhasilan konsolidasi organisasi tidak cukup diukur dari terbentuknya struktur kepengurusan Partai Golkar Makassar.
Hal yang tidak kalah penting adalah, memastikan seluruh elemen partai memiliki ruang untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam menjalankan program Partai Golkar.
Ia juga mendorong terbentuknya kepengurusan yang inklusif dengan melibatkan kader senior, kader muda, tokoh masyarakat, serta kader yang memiliki pengalaman di bidang pemerintahan, sosial, ekonomi, dan industri.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut dinilai penting agar Golkar Makassar memiliki perspektif yang lebih luas dalam merespons kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat peran partai di tengah dinamika pembangunan daerah.
Multazan menilai sejumlah persoalan, seperti penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi lokal, pengembangan kawasan industri, dan peningkatan kesejahteraan warga, perlu menjadi perhatian dalam merumuskan arah perjuangan politik Golkar Makassar ke depan.
Dengan kepengurusan yang solid dan program kerja yang terukur, Golkar diharapkan tidak hanya mampu memperkuat organisasi secara internal, tetapi juga meningkatkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Multazan juga mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan pembinaan kader. Menurutnya, kader merupakan salah satu kekuatan utama partai yang perlu dirawat, diberdayakan, dan diberikan kesempatan untuk mengembangkan kapasitas serta menunjukkan kontribusinya.
Ia berharap Golkar Makassar mampu membangun pola kerja organisasi yang berkelanjutan sehingga hubungan antara pengurus dan kader tidak hanya aktif menjelang agenda politik atau kontestasi pemilihan.
“Jangan sampai kader hanya dibutuhkan ketika momentum politik tiba. Kader harus dirawat, diberdayakan, dan diberikan kesempatan berkontribusi. Golkar harus hadir sepanjang waktu melalui kerja nyata, bukan sekadar melalui slogan,” pungkasnya.
Melalui Musda mendatang, Multazan berharap Partai Golkar Kota Makassar dapat memperkuat persatuan, menjaga soliditas seluruh kader, serta melahirkan kepengurusan yang berintegritas dan mampu menjalankan agenda organisasi secara konsisten.
Dengan demikian, Musda tidak sekadar menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi titik awal pembenahan organisasi dan penguatan komitmen Golkar Makassar untuk terus hadir menjawab kebutuhan masyarakat. (*)



