Dominasi Semen Tonasa di Indonesia Timur Diuji Ketat Persaingan Pasar Swasta

Direktur Utama PT Semen Tonasa, Anis, (dua kiri) saat mengunjungi sebuah toko bahan bangunan di Sulawesi Utara belum lama ini. (Dok: ANTARA/HO-Semen Tonasa)

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Persaingan industri bahan bangunan di kawasan Indonesia timur menghadapi dinamika baru dengan semakin ketatnya penetrasi produsen semen swasta. Meski demikian, PT Semen Tonasa mengklaim tetap memegang kendali atas pangsa pasar semen di wilayah tersebut berkat keunggulan pada segmen kualitas premium.

Direktur Utama PT Semen Tonasa, Anis, menyatakan bahwa perusahaannya yang beroperasi sebagai anak usaha PT Semen Indonesia (SIG) memiliki jangkauan distribusi luas, membentang dari Sulawesi hingga wilayah Maluku dan Papua. Hal tersebut disampaikannya di sela-sela pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan di Makassar.

Sebagai produsen regional dengan basis produksi utama di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, perseroan mengandalkan kompleks pabrik seluas 1.571 hektare di Desa Biring Ere, Kecamatan Bungoro. Lokasi fasilitas produksi ini berada sekitar 68 kilometer di sebelah utara Kota Makassar.

Kapasitas terpasang pabrik ini tercatat mencapai 5.980.000 ton per tahun yang ditopang oleh empat unit operasional aktif. Unit II dan III masing-masing memiliki kapasitas 590.000 ton per tahun, disusul Unit IV dengan kapasitas 2.300.000 ton per tahun, serta Unit V berkapasitas 2.500.000 ton per tahun untuk menopang pasokan nasional, khususnya kawasan timur.

Strategi Jemput Bola ke Pengecer

Untuk mempertahankan posisi dominan di tengah gempuran produk swasta, manajemen PT Semen Tonasa mengintensifkan program kunjungan langsung atau visitasi ke jaringan toko dan pengecer bahan bangunan di berbagai daerah.

Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, kegiatan lapangan ini dirancang tidak sekadar mengejar target penjualan jangka pendek. Manajemen berupaya memantau langsung dinamika kompetitor, mendengarkan masukan pelanggan, serta mengidentifikasi potensi pengembangan pasar di tingkat lokal.

Di sisi lain, kalangan pengamat industri mencatat bahwa ekspansi produsen swasta di wilayah timur menuntut efisiensi logistik yang tinggi dari BUMN. Tantangan distribusi antar-pulau di kawasan timur Indonesia seringkali menjadi faktor penentu harga jual akhir di tingkat konsumen. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan