MENITNEWSM.CO.ID, MEDAN — Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, memaparkan berbagai inovasi dan gerakan pengelolaan sampah yang dijalankan Pemerintah Kota Makassar pada Ladies Program yang menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 di Gedung Warenhuis, Kota Medan, Rabu (1/7/2026).
Mengangkat tema “Perempuan Tangguh Penuh Percaya Diri”, kegiatan tersebut menjadi forum berbagi pengetahuan (sharing knowledge) yang mempertemukan Ketua TP PKK dari berbagai daerah untuk saling bertukar pengalaman dan praktik terbaik dalam mendukung pembangunan daerah.
Pada kesempatan itu, Melinda Aksa dipercaya sebagai salah satu narasumber untuk mempresentasikan program unggulan Kota Makassar di bidang pengelolaan sampah yang mengedepankan pendekatan menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir.
Dalam paparannya, Melinda menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan rumah tangga melalui kebiasaan memilah sampah sejak awal. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor utama dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Kalau di hulu masyarakat belum mampu memilah sampah dan mengubah kebiasaan, maka TPA akan terus terbebani oleh sampah yang sebenarnya sudah tidak boleh lagi berakhir di sana. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.
Melinda Aksa menjelaskan, Pemerintah Kota Makassar bersama TP PKK terus memperkuat edukasi dan pelibatan masyarakat hingga tingkat RT dan RW sebagai bagian dari komitmen mewujudkan target Makassar Bebas Sampah 2029.

Sebagai mitra strategis pemerintah daerah, kata Melinda Aksa, TP PKK Kota Makassar juga menyelaraskan berbagai program kerjanya untuk mendukung gerakan tersebut. Salah satunya melalui kolaborasi dengan Pokja Bunda PAUD yang menghadirkan edukasi pengelolaan sampah kepada anak-anak dan keluarga agar kepedulian terhadap lingkungan dapat ditanamkan sejak usia dini.
Selain itu, edukasi pengelolaan sampah turut diintegrasikan ke dalam berbagai program unggulan PKK, seperti PKK Goes to School, PKK Borong Mangan, serta Program Hatinya PKK yang dikembangkan oleh Pokja III.
Melalui program tersebut, sampah organik hasil pemilahan masyarakat diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk kebun-kebun Hatinya PKK. Hasil panen dari kebun tersebut kemudian dimanfaatkan maupun dipasarkan oleh kader PKK sehingga mampu menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus mengurangi timbulan sampah.
“Pengelolaan sampah bukan hanya tentang menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga bagaimana memberikan manfaat bagi masyarakat. Ketika sampah diolah menjadi kompos, dimanfaatkan untuk kebun, lalu hasilnya memiliki nilai ekonomi, maka di situlah tercipta gerakan yang berkelanjutan,” kata Melinda.
Melinda berharap, melalui forum nasional tersebut, berbagai praktik baik yang telah diterapkan Kota Makassar dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah lain dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Melinda Aksa juga menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi antarkota, dengan menjadikan keluarga sebagai titik awal perubahan budaya pengelolaan sampah, sehingga upaya menjaga lingkungan dapat berlangsung secara konsisten dan berkelanjutan. (*)

