Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Dipenuhi Puluhan Ribu Pelayat, Absennya Mojtaba Jadi Sorotan

ads
ads
ads

MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA – Pemakaman massal Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Minggu (5/7/2026), dipadati puluhan ribu pelayat. Namun, perhatian publik justru tertuju pada absennya Mojtaba Khamenei, putra yang selama ini disebut-sebut sebagai calon penerus kepemimpinan Iran.

Siaran televisi pemerintah Iran memperlihatkan tiga putra Khamenei, yakni Mostafa, Meysam, dan Masoud Khamenei, memimpin doa di belakang peti jenazah bersama sejumlah anggota keluarga lainnya di Kompleks Mosalla Agung Imam Khomeini, Teheran. Mojtaba Khamenei tidak tampak dalam prosesi tersebut.

Ketidakhadiran Mojtaba memicu berbagai spekulasi. Seorang pelayat bahkan mengaku berharap dapat melihat sosok yang diyakini banyak pihak sebagai calon pemimpin Iran berikutnya.

“Sampai saat-saat terakhir sebelum doa dimulai, saya terus berharap Mojtaba Khamenei akan datang. Itu satu-satunya harapan kami,” ujar seorang perempuan kepada kantor berita Tasnim.

Diduga Masih Dalam Masa Pemulihan

Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah anggota keluarganya dilaporkan tewas dalam serangan udara pada 28 Februari 2026 saat Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran. Konflik yang berlangsung sekitar empat bulan itu akhirnya berakhir setelah kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata, meski kondisinya masih dinilai rapuh.

Sejak serangan tersebut, Mojtaba Khamenei belum pernah muncul di hadapan publik. Menurut sejumlah sumber yang dikutip Reuters, ia mengalami luka serius, termasuk cedera pada wajah serta satu atau kedua kakinya, sehingga diduga masih menjalani proses pemulihan.

Prosesi Penghormatan Berlangsung Sepekan

Pemerintah Iran menggelar penghormatan kenegaraan selama sepekan untuk mengenang Ayatollah Ali Khamenei yang memimpin Iran sejak 1989.

Setelah sebelumnya disemayamkan bagi para pejabat tinggi negara dan tamu asing, peti jenazah Khamenei bersama jenazah putri, menantu, dan cucunya ditempatkan di area terbuka agar masyarakat dapat memberikan penghormatan terakhir.

Puluhan ribu warga, anggota militer, mahasiswa seminari, hingga masyarakat umum memadati Kompleks Mosalla Agung Imam Khomeini. Banyak pelayat mengibarkan bendera yang berisi seruan balas dendam terhadap Amerika Serikat dan Israel, sementara lainnya memanjatkan doa bersama.

Besarnya jumlah pelayat membuat prosesi penghormatan diperpanjang sekitar satu jam hingga pukul 22.00 waktu setempat.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf turut menghadiri pemakaman tersebut. Dalam prosesi doa, Masoud Khamenei terlihat menangis sambil menyeka air matanya menggunakan keffiyeh.

Jenazah Dibawa ke Kota-Kota Suci

Rangkaian pemakaman berlanjut dengan membawa jenazah Ayatollah Ali Khamenei ke kota suci Qom, kemudian diterbangkan ke Najaf dan Karbala di Irak. Setelah itu, jenazah dijadwalkan kembali ke Iran untuk prosesi terakhir di Mashhad sebelum dimakamkan.

Pemerintah Iran juga menyiapkan transportasi, makanan, serta akomodasi bagi jutaan warga yang diperkirakan mengikuti rangkaian penghormatan tersebut.

Gencatan Senjata Buka Peluang Pemulihan Ekonomi

Di tengah prosesi pemakaman, situasi politik dan ekonomi Iran mulai memasuki fase baru. Pemerintah Iran menilai gencatan senjata yang dimediasi Washington berpotensi memberikan manfaat ekonomi, termasuk kemungkinan pencairan aset Iran senilai miliaran dolar AS yang selama ini dibekukan di luar negeri serta pelonggaran sejumlah sanksi keuangan.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa pembicaraan perdamaian sempat ditunda selama sepekan sebagai bentuk penghormatan terhadap rangkaian pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. (*)

Banner Sponsor

Iklan