MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Industri perbankan di Sulawesi Selatan (Sulsel), terus mencatatkan tren pertumbuhan positif hingga pertengahan tahun ini.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan total penyaluran kredit perbankan di Sulsel, berhasil menembus angka Rp176,30 triliun per Juni 2026, atau tumbuh sebesar 5,27 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan kredit ini sejalan dengan penguatan total aset perbankan Sulsel yang melesat 5,99 persen (yoy) menjadi Rp214,32 triliun.
Baca Juga : OJK Tetapkan Kebijakan Baru Pembayaran Manfaat Pensiun, Tindak Lanjuti Putusan Mahkamah Konstitusi
Sementara itu, dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), masyarakat tercatat menyumbang Rp149,77 triliun, naik 5,71 persen (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, menegaskan bahwa fungsi intermediasi perbankan di Sulsel tetap solid dan terjaga di tengah dinamika ekonomi nasional maupun regional.
”Kinerja perbankan di Sulawesi Selatan pada posisi Juni 2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif. Total aset, DPK, dan kredit perbankan tumbuh masing-masing sebesar 5,99 persen, 5,71 persen, dan 5,27 persen secara tahunan,” ujar Muchlasin dalam paparan kinerja sektor jasa keuangan di Kantor OJK Makassar, Senin (3/8/2026).
Muchlasin menambahkan, pertumbuhan ekspansi kredit ini diimbangi oleh tata kelola risiko yang ketat. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tercatat terjaga aman di angka 3,70 persen.
Aktivitas ekonomi produktif menjadi bahan bakar utama yang mendorong laju kredit di Sulsel.
Sektor perdagangan besar dan eceran mendominasi penyaluran kredit dengan porsi mencapai Rp37,96 triliun.

Beberapa sektor strategis lainnya yang menerima kucuran kredit besar antara lain Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan Rp16,51 triliun, Industri Pengolahan Rp7,53 triliun, Konstruksi Rp5,05 triliun, serta Real Estate dan Jasa Perusahaan Rp4,28 triliun.
Kemudian Jasa Kemasyarakatan & Hiburan Rp3,90 triliun, Akomodasi & Makanan Minuman Rp3,65 triliun, dan Transportasi & Logistik Rp3,08 triliun.
Makassar Masih Mendominasi, Toraja Utara Tumbuh Pesat
Secara pemetaan wilayah, Kota Makassar masih menjadi pusat perputaran uang terbesar. Ibu kota provinsi ini menyerap kredit sebesar Rp83,40 triliun atau menguasai 53,04 persen dari total porsi kredit produktif di Sulawesi Selatan.
Di posisi berikutnya, Kota Palopo mencatatkan serapan sebesar Rp10,41 triliun, disusul Kabupaten Bone (Rp6,20 triliun), dan Kota Parepare (Rp6,19 triliun).
Meski Makassar mendominasi dari sisi volume, lonjakan pertumbuhan kredit secara tahunan (yoy) justru dipimpin oleh daerah penyangga yakni Kabupaten Toraja Utara: Tumbuh tertinggi sebesar 8,62 persen.
Kemudian Kabupaten Bone: Tumbuh 8,54 persen, Kota Palopo: Tumbuh 4,01 persen.
Di sisi simpanan masyarakat (DPK), produk tabungan masih menjadi instrumen favorit dengan nilai mencapai Rp92,03 triliun atau porsinya sebesar 61,45 persen dari total DPK.
Adapun instrumen deposito menyumbang Rp33,96 triliun (22,68 persen) dan giro sebesar Rp23,77 triliun (15,87 persen).
OJK menyatakan bahwa, dominasi tabungan ini menegaskan tingginya tingkat kepercayaan dan kepatuhan masyarakat Sulsel, dalam memanfaatkan jasa layanan perbankan resmi. (*)

