MENITNEWS.CO.ID, SEATTLE — Kehidupan vegetasi di planet Bumi diperkirakan masih memiliki masa depan yang sangat panjang. Peneliti memproyeksikan seluruh spesies tumbuhan baru akan mengalami kepunahan total sekitar 1,87 miliar tahun yang akan datang.
Kepastian durasi daya tahan biosfer vegetatif ini diungkapkan dalam laporan ilmiah terbaru yang terbit di Journal of Geophysical Research: Atmospheres. Kepunahan massal flora tersebut dipicu oleh peningkatan intensitas radiasi cahaya Matahari yang diprediksi melonjak hingga 20 persen lebih terang dari kondisi saat ini.
Peningkatan radiasi surya secara bertahap tersebut berisiko memicu lonjakan suhu ekstrem di permukaan Bumi sekaligus mengikis ketersediaan karbon dioksida (CO₂), salah satu unsur krusial yang dibutuhkan tumbuhan untuk berfotosintesis dan bertahan hidup.

Studi mendalam mengenai proyeksi masa depan iklim ini dipimpin oleh astrobiolog Jacob Haqq-Misra bersama ilmuwan iklim planet Eric Wolf. Kedua peneliti tersebut bernaung di bawah Blue Marble Space, sebuah lembaga riset independen dan nirlaba yang berpusat di Seattle, Amerika Serikat.
Guna memetakan dinamika iklim Bumi hingga dua miliar tahun mendatang, tim peneliti mengoperasikan simulasi pemodelan iklim tiga dimensi (3D). Model eksperimental ini memperhitungkan secara presisi akumulasi peningkatan radiasi Matahari serta fluktuasi konsentrasi karbon dioksida di atmosfer planet.
Baca juga: Deretan Fenomena Langit Agustus 2026: Ada Gerhana Matahari Total hingga Puncak Hujan Meteor Perseid
Dalam perjalanannya, kadar karbon dioksida di atmosfer terus bersirkulasi melalui siklus alami karbonat-silikat. Gas ini diserap oleh perairan laut, mengendap di dasar samudra menjadi batuan, lalu diproduksi kembali ke udara melalui aktivitas tektonik lempeng dan erupsi gunung berapi.
Lantaran tingkat sensitivitas siklus tersebut terhadap respons perubahan suhu belum diketahui secara pasti, para peneliti merancang dua skenario simulasi yang berbeda.
Pada skenario pertama yang melukiskan model pelapukan kuat (strong weathering), suhu permukaan planet cenderung stabil. Kendati demikian, penyerapan karbon oleh proses geologi terjadi sangat masif sehingga memicu penurunan drastis kadar CO₂ di atmosfer. Fenomena “kelaparan karbon” ini memicu kepunahan seluruh vegetasi Bumi pada kurun waktu 1,84 miliar tahun mendatang.
Skenario kedua menggunakan model pelapukan lemah (weak weathering), yang menunjukkan tingkat kadar CO₂ relatif konstan. Namun, radiasi Matahari yang kian panas mendorong kenaikan suhu rata-rata permukaan Bumi hingga menyentuh angka 65 derajat Celsius. Kondisi termal yang ekstrem ini menghapus seluruh peluang hidup bagi tumbuhan darat.
Melalui skenario kedua ini, estimasi batas usia maksimum tumbuhan tercatat mampu mencapai 1,87 miliar tahun. Angka ini tergolong lebih panjang jika dibandingkan dengan sejumlah kalkulasi pada penelitian-penelitian terdahulu.
Baca juga: Makkah Bakal Gelap Total: Jadwal dan Wilayah Gerhana Matahari Total 2027 di Arab Saudi
Hasil studi ini turut memperlihatkan bahwa keberadaan biosfer fotosintesis di Bumi dapat bertahan hingga mendekati fase di mana planet ini kehilangan seluruh cadangan air lautnya. Artinya, rentang usia kehidupan tumbuhan diperkirakan berjalan hampir sejajar dengan keberadaan samudra.
Tim peneliti memberikan catatan khusus bahwa model simulasi ini belum memperhitungkan variabel evolusi biologis tumbuhan maupun potensi lonjakan teknologi peradaban masa depan. Kedua faktor dinamis ini berpeluang besar memperpanjang napas kehidupan vegetasi, bahkan membuka potensi penyebaran tumbuhan ke luar angkasa.
Di masa depan, tumbuhan diproyeksikan mampu berevolusi secara mandiri untuk mengadaptasi suhu dan tekanan lingkungan. Tumbuhan dapat beradaptasi dengan mendiami zona elevasi yang lebih tinggi, menembus lapisan stratosfer, hingga berpotensi menyebar ke objek antariksa bergravitasi rendah seperti Bulan, komet, maupun melayang di ruang hampa.
Di sisi lain, potensi intervensi rekayasa teknologi turut menjadi opsi fungsional, seperti aplikasi geoengineering berupa penyebaran aerosol reflektif di atmosfer atas atau pemasangan pelindung sinar Matahari (sunshade) pada jalur orbit Bumi.

Gagasan spekulatif lain yang sempat diwacanakan meliput skema pergeseran orbit Bumi agar menjauhi Matahari, hingga tindakan rekayasa massa Matahari agar tingkat kecerahan dan suhunya dapat terjaga stabil dalam jangka panjang.
Kendati skenario jangka panjang tersebut masih memuat teka-teki, penemuan ini memberikan sinyal optimistis mengenai daya tahan ekosistem Bumi terhadap perubahan lingkungan.
“Kehidupan di Bumi sangat tangguh. Batasan akibat suhu ekstrem atau kekurangan karbon dioksida mungkin hanya mencerminkan kondisi biosfer saat ini, bukan batas mutlak bagi bagaimana kehidupan dapat berevolusi di masa depan,” tegas tim peneliti dalam laporan resminya.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa kehidupan di Bumi memiliki daya adaptasi yang luar biasa dan akan terus menancapkan keberadaannya selama planet ini masih mampu menyediakan daya dukung lingkungan. (*)

