MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Keputusan pembatalan balapan Moto3 Australia 2026 di Sirkuit Phillip Island menyisakan kekecewaan mendalam bagi sejumlah petinggi tim balap dunia.
Salah satunya datang dari manajer tim Intact GP, Peter Ottl, yang merasa penasaran untuk menguji kemampuan para pembalapnya melawan peraih pole position asal Indonesia, Veda Ega Pratama.
Sesi kualifikasi seri ke-18 tersebut sebelumnya mencatatkan sejarah membanggakan bagi dunia balap tanah air.
Pembalap Honda Team Asia, Veda Ega Pratama, sukses mengamankan posisi start terdepan usai mengungguli juara dunia musim ini, Maximo Quiles, dengan keunggulan tipis 0,021 detik di detik-detik akhir.
Namun, pencapaian gemilang tersebut urung dibuktikan di atas lintasan utama akibat pembatalan balapan.
Penyelenggara terpaksa mengambil langkah tersebut menyusul buruknya visibilitas akibat hujan deras yang melanda kawasan sirkuit.
Keyakinan di Tengah Posisi Start Kurang Ideal
Batalnya sesi balapan turut mengubur ambisi kubu Intact GP untuk melihat aksi dua pembalap mereka, David Almansa dan David Munoz.
Pada seri ini, Almansa harus puas memulai balapan dari urutan ke-11, sementara rekan setimnya, Munoz, tercecer di posisi ke-16 luar zona poin.
Kendati demikian, Ottl menegaskan bahwa posisi start tersebut tidak mencerminkan kekuatan riil kedua anak asuhnya di atas lintasan.
Ia menilai Almansa dan Munoz memiliki ritme balap yang sangat kompetitif sejak sesi latihan bebas (practice).
“Pada akhir pekan balapan terakhir kami di Phillip Island, kami disuguhi cuaca cerah 28 derajat pada hari Jumat,” ujar Ottl, sebagaimana dikutip dari Speedweek via MSN.
“Kedua rider kami memulai rangkaian seri ini dengan sempurna.”
Ia mencatat Almansa mampu mengamankan posisi keempat yang kuat usai sesi practice, sedangkan Munoz menyusul di tempat kedelapan.
Hasil positif tersebut mengantarkan keduanya lolos otomatis ke sesi kualifikasi kedua (Q2).
Performa kompetitif tersebut, lanjut Ottl, tetap terjaga meskipun kondisi cuaca berubah drastis menjadi hujan deras pada hari Sabtu.
Meskipun sempat mengalami insiden kecelakaan kecil, kecepatan kedua pembalapnya dinilai tetap konsisten di berbagai kondisi lintasan.
Strategi Slipstream dan Faktor Keselamatan
Menanggapi posisi start yang kurang menguntungkan di barisan tengah, Ottl tidak merasa khawatir.
Ia mengandalkan karakteristik Sirkuit Phillip Island yang sangat dipengaruhi oleh efek karavan angin atau slipstream antar pembalap.
“Start dari posisi ke-11 dan ke-16 tentu saja tidak ideal, tetapi slipstream memiliki pengaruh yang sangat besar pada lap time di Phillip Island,” ucap Ottl menjelaskan.
“Oleh karena itu, Anda tidak selalu dapat melihat keseimbangan kekuatan yang sebenarnya dalam satu putaran, kami sangat percaya diri untuk balapan hari Minggu, terlepas dari cuaca,” tambahnya.
Di balik rasa penasaran dan ambisinya untuk bersaing menghadapi Veda Ega Pratama serta Maximo Quiles, Ottl menyatakan sikap legawa.
Ia menegaskan keselamatan para pembalap dan kru tetap menjadi prioritas utama yang harus dihormati.
“Keadaan memang tidak memungkinkan untuk dilanjutkan, treknya bagus, tetapi karena jarak pandang, lepas landas dan pendaratan helikopter penyelamat tidak mungkin dilakukan,” ungkapnya.
“Oleh karena itu, keselamatan para pembalap tidak terjamin. Itu sesuatu yang harus kita terima.”
Pembatalan ini dinilai tidak hanya merugikan tim dan pembalap yang telah bekerja keras sepanjang akhir pekan.
Dampak tersebut juga dirasakan langsung oleh para penonton yang hadir dalam jumlah besar di sirkuit untuk menyaksikan seri pamungkas tersebut. (*)



