Tempuh Jalan Terjal dan Seberangi Sungai, Bidan Husniati Layani Warga Pelosok Majene

MENITNEWS.CO.ID, MAJENE — Keterbatasan akses dan beratnya medan perjalanan tidak menyurutkan semangat Bidan Husniati, untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di pelosok Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Demi mendampingi ibu hamil, ibu melahirkan, bayi, dan anak-anak, ia rela menempuh perjalanan berjam-jam, menyeberangi sungai, hingga berjalan kaki melewati medan yang sulit.

Untuk menjangkau Dusun Coci, Husniati harus mengendarai sepeda motor selama sekitar dua jam, menyeberangi sungai dengan arus yang tidak menentu, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam.

Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari pengabdiannya sebagai bidan yang melayani masyarakat di wilayah dengan keterbatasan akses fasilitas kesehatan.

Dedikasi Husniati turut mendapat dukungan melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi Yayasan Baitul Maal (YBM) PT PLN (Persero).

Program ini merupakan bagian dari upaya PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) untuk mendukung tenaga kesehatan yang mengabdikan diri di daerah dengan akses pelayanan kesehatan yang terbatas.

General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, mengatakan pengabdian para bidan di wilayah terpencil perlu mendapatkan dukungan agar masyarakat memiliki kesempatan lebih baik dalam memperoleh pelayanan kesehatan.

“Dedikasi para bidan yang tetap hadir di tengah keterbatasan menjadi pengingat bahwa kepedulian harus menjangkau semua lapisan masyarakat. Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, kami berharap dukungan ini dapat membantu para bidan menjalankan pengabdian sekaligus mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Didik.

Bagi Husniati, menjadi bidan bukan sekadar menjalankan profesi, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat di tanah kelahirannya.

Berasal dari keluarga sederhana di Banua Adolang, ia tumbuh bersama enam saudara lainnya. Husniati menjadi satu-satunya anggota keluarga yang memilih profesi sebagai bidan.

Di tengah kesibukannya melayani masyarakat, ia juga berusaha membantu pendidikan dua adiknya. Pada saat yang sama, ia menjalankan tanggung jawab sebagai istri dan ibu dari dua anak.

Selama sekitar enam tahun menjalani profesinya, Husniati memilih mengabdikan diri di daerah asalnya. Ia melayani masyarakat di sejumlah dusun, antara lain Belalang, Belia, Ratte, Adolang, dan Coci.

Pelayanannya tidak terbatas pada pemeriksaan kesehatan. Husniati juga mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak, sekaligus mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang, kehadiran bidan seperti Husniati menjadi penting bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan kesehatan, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Husniati terjadi pada Jumat dini hari, 9 Oktober 2026. Saat itu, ia menerima panggilan untuk membantu seorang ibu yang hendak melahirkan di Dusun Ratte.

Bersama bidan lainnya, Masrianti, Husniati menyarankan agar pasien segera dirujuk ke Puskesmas Pamboang untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.

Namun, proses rujukan tidak berjalan mudah. Keluarga pasien sempat ragu membawa ibu tersebut ke fasilitas kesehatan. Husniati pun menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menjelaskan pentingnya mendapatkan penanganan medis yang memadai.

Tantangan berikutnya muncul karena ambulans tidak dapat menjangkau rumah pasien. Ibu yang hendak melahirkan itu akhirnya harus diusung menggunakan tandu selama sekitar satu jam hingga mencapai jalan yang bisa dilalui kendaraan.

Perjuangan tersebut berlanjut dalam perjalanan menuju Puskesmas Pamboang. Sekitar pukul 03.00 WITA, ketika berada di dalam ambulans, ibu tersebut akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki dengan berat badan 3.100 gram.

Pengalaman itu memperlihatkan beratnya tantangan pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Selain membutuhkan kemampuan medis, tenaga kesehatan juga harus memiliki kesabaran, kepedulian, dan kesiapan mendampingi masyarakat dalam situasi darurat.

Bagi Husniati, setiap panggilan untuk membantu warga merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan sebaik mungkin, meskipun kondisi di lapangan tidak selalu mendukung.

Sebelum bergabung dalam Program Bidan Cahaya pada Februari 2024, Husniati mengandalkan kontribusi sukarela dari pasien untuk menunjang pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala yang harus dihadapinya selama bertugas. Kondisi tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk tetap memberikan pelayanan kepada warga yang membutuhkan.

Dukungan melalui YBM PLN menjadi salah satu penguat bagi Husniati dalam menjalankan pengabdiannya. Program Bidan Cahaya diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah terpencil agar tetap mampu menjangkau masyarakat yang menghadapi hambatan akses pelayanan.

Husniati berharap masyarakat di pelosok Majene semakin mudah memperoleh layanan kesehatan, khususnya bagi ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak.

“Saya berharap masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak. Semoga saya bisa terus mendampingi warga dan memberikan pelayanan terbaik, meskipun banyak keterbatasan yang harus dihadapi,” ujar Husniati.

Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, PLN UID Sulselrabar terus mendorong dukungan bagi tenaga kesehatan yang mengabdikan diri di wilayah kerjanya.

Kisah Husniati menjadi gambaran nyata perjuangan tenaga kesehatan dalam menjangkau masyarakat di daerah terpencil.

Di balik jalan terjal, sungai yang harus diseberangi, dan perjalanan panjang yang ditempuh, terdapat komitmen untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pendampingan kesehatan.

Bagi warga pelosok Majene, kehadiran seorang bidan bukan hanya berarti akses terhadap pelayanan medis, tetapi juga harapan akan keselamatan ibu dan anak di tengah keterbatasan. (red)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan