MDA dan UNCP Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Warga Latimojong, DESTANA Boneposi-Tolajuk Gelar Simulasi Darurat

ads
ads
ads

MENITNEWS.CO.ID, LUWU — PT Masmindo Dwi Area (MDA) bersama Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP), terus memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu.

Melalui Program Jaga Desa, kedua pihak menggelar penguatan kelembagaan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) sekaligus simulasi kesiapsiagaan bencana di Desa Boneposi dan Desa Tolajuk, Selasa (30/6/2026).

Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari pembentukan DESTANA yang sebelumnya telah dilaksanakan. Kali ini, masyarakat tidak hanya memperoleh sosialisasi, tetapi juga mengikuti simulasi lapangan guna meningkatkan kemampuan menghadapi situasi darurat secara langsung.

Dalam simulasi tersebut, warga dilibatkan dalam penyusunan mekanisme koordinasi, pembagian tugas pengurus DESTANA, penentuan titik kumpul dan lokasi pengungsian sementara, penyusunan jalur evakuasi, pemasangan rambu-rambu evakuasi, hingga praktik komunikasi darurat.

Program ini merupakan bagian dari Program Jaga Desa yang lahir dari aspirasi masyarakat melalui FORDES MATAPPA. Program tersebut bertujuan membangun kapasitas masyarakat agar memiliki sistem respons bencana yang terstruktur, efektif, dan siap dijalankan ketika kondisi darurat terjadi.

Pelaksanaan kegiatan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, Palang Merah Indonesia (PMI), Dinas Sosial Kabupaten Luwu, pemerintah desa, FORDES MATAPPA, serta PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo.

Kepala Teknik Tambang PT Masmindo Dwi Area, Mustafa Ibrahim, mengatakan kesiapsiagaan masyarakat harus dibangun melalui latihan yang berkesinambungan sehingga setiap unsur memahami peran dan tanggung jawab masing-masing saat bencana terjadi.

Menurutnya, pembentukan DESTANA tidak hanya berfokus pada pembentukan organisasi, tetapi juga memastikan seluruh sistem yang telah disusun mampu berjalan secara efektif ketika dibutuhkan.

Sementara itu, Ketua PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo, Ichwan Muis, menilai simulasi menjadi metode pembelajaran yang paling efektif karena masyarakat dapat mengalami secara langsung proses koordinasi, evakuasi, hingga pengambilan keputusan dalam kondisi darurat.

Di sisi lain, Kepala Desa Boneposi, M. Hamka, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman nyata kepada masyarakat dalam memahami langkah-langkah penyelamatan saat menghadapi bencana.

Apresiasi serupa juga disampaikan Kepala Desa Tolajuk, Badarudin. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun budaya gotong royong sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Sebelumnya, program penguatan DESTANA telah dilaksanakan di Desa Bonelemo dan Desa Ulusalu pada 2025.

Memasuki 2026, cakupan program diperluas ke Desa Boneposi dan Desa Tolajuk melalui rangkaian sosialisasi, penguatan kelembagaan, simulasi kesiapsiagaan, hingga pemasangan rambu-rambu evakuasi.

Ke depan, PT Masmindo Dwi Area bersama Universitas Cokroaminoto Palopo, berencana memperluas program secara bertahap ke desa-desa lain di Kecamatan Latimojong. Pengembangan tersebut akan disesuaikan dengan hasil pemetaan risiko dan survei lapangan sebagai upaya memperkuat sistem mitigasi bencana berbasis masyarakat secara berkelanjutan. (*)

Banner Sponsor

Iklan