Tantri Kotak Ungkap Dugaan Penipuan Rp10 Miliar oleh Teman, Siap Tempuh Jalur Hukum

Tantri soal kondisi dan alasan speak up soal dugaan penipuan. (Sumber: Detik/Foto: Instagram/@tantrisyalindri)

ads
ads
ads

MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA – Vokalis band Kotak, Tantri Syalindri, akhirnya buka suara terkait dugaan penipuan yang diduga dilakukan oleh seorang teman dekatnya. Tantri mengaku dirinya bersama sejumlah ibu-ibu dari lingkungan sekolah anak mereka menjadi korban, dengan total kerugian yang diperkirakan mencapai sekitar Rp10 miliar.

Dalam keterangannya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Tantri menjelaskan kronologi hingga alasan dirinya memutuskan mengungkap kasus tersebut ke publik. Berikut rangkumannya.

1. Alasan Tantri Speak Up di Media Sosial

Tantri mengaku sengaja membagikan kasus tersebut melalui media sosial pribadinya, termasuk memperlihatkan wajah dan identitas terduga pelaku. Menurutnya, langkah itu dilakukan agar tidak semakin banyak korban yang tertipu.

“Kalau aku tidak cerita, kemungkinan besar akan semakin banyak korban berikutnya. Ternyata korbannya juga banyak, bahkan salah satunya teman-teman kami sendiri,” ujar Tantri.

Ia mengungkapkan, salah seorang korban bahkan menginvestasikan uang demi mendapatkan keuntungan untuk membantu biaya pengobatan kanker. Karena itu, Tantri merasa perlu memperingatkan masyarakat.

2. Masih Sulit Percaya Dikhianati Teman

Tantri mengaku hingga kini masih sulit menerima kenyataan bahwa orang yang diduga melakukan penipuan merupakan teman dekatnya.

Menurutnya, selama beberapa hari terakhir ia terus mempertanyakan apakah kejadian tersebut benar-benar terjadi.

“Orang yang merugikan ini salah satu teman saya. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, benar tidak dia melakukan ini?” katanya.

Meski masih syok, Tantri bersama korban lainnya akhirnya sepakat untuk berani berbicara agar kasus tersebut mendapat perhatian.

3. Modus Investasi yang Diduga Digunakan Pelaku

Tantri menjelaskan hubungan pertemanannya dengan terduga pelaku telah terjalin sejak anak-anak mereka masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Pada 2025, terduga pelaku diketahui bekerja sebagai tenaga penjualan dan menawarkan investasi kepada teman-temannya dengan alasan membutuhkan bantuan agar target pekerjaannya tercapai.

Karena sudah saling mengenal lama dan memiliki hubungan baik, Tantri serta korban lainnya tidak menaruh curiga.

Seiring waktu, investasi tersebut berjalan lancar sehingga kepercayaan para korban semakin besar.

Tantri juga menilai terduga pelaku sangat pandai membangun kepercayaan dan memainkan psikologis para korban dengan menunjukkan citra sebagai seorang ibu tunggal yang membutuhkan bantuan.

4. Terduga Pelaku Mendadak Menghilang

Kecurigaan mulai muncul setelah para korban melakukan transfer dana terakhir.

Sejak saat itu, terduga pelaku tidak lagi dapat dihubungi. Akun media sosialnya dihapus dan keberadaannya tidak diketahui hingga lebih dari delapan hari.

Tantri mengatakan dirinya sempat berusaha berpikir positif dan menganggap temannya hanya sedang bepergian. Namun setelah berbagai upaya menghubungi tidak membuahkan hasil, termasuk mendatangi rumah orang tua terduga pelaku, kekhawatiran para korban semakin besar.

5. Lebih Kecewa karena Pengkhianatan

Tantri menegaskan rasa kecewa yang dirasakannya bukan semata karena kehilangan uang.

Baginya, yang paling menyakitkan adalah kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun justru disalahgunakan.

Ia mengaku tidak menyangka hubungan pertemanan yang telah lama terjalin berakhir dengan dugaan pengkhianatan seperti itu.

6. Pertimbangkan Melapor ke Polisi

Hingga saat ini Tantri bersama korban lainnya belum secara resmi membuat laporan polisi.

Meski begitu, mereka telah berdiskusi dengan kuasa hukum dan tengah menyiapkan langkah hukum yang akan ditempuh secara bersama-sama.

Tantri berharap proses tersebut dapat berjalan lancar dan meminta doa dari masyarakat.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat selalu menggunakan logika dan kehati-hatian sebelum memutuskan mengikuti sebuah investasi, meskipun ditawarkan oleh orang yang dikenal dekat.

7. Uang yang Hilang Merupakan Tabungan Masa Depan

Tantri membenarkan bahwa dana yang diduga dibawa kabur merupakan hasil kerja kerasnya bersama sang suami selama berkarier di industri musik.

Menurutnya, sebagai pekerja seni yang tidak memiliki dana pensiun, mereka berusaha menyisihkan penghasilan untuk investasi demi masa depan.

Dana yang dimiliki kemudian diputar melalui investasi yang saat itu dianggap terpercaya.

8. Tidak Menutup Pintu Maaf

Meski kecewa, Tantri mengaku tetap membuka pintu maaf apabila terduga pelaku bersedia bertanggung jawab.

Namun, ia menegaskan setiap tindakan memiliki konsekuensi hukum maupun moral yang harus dipertanggungjawabkan.

Bagi Tantri, permintaan maaf saja tidak cukup tanpa adanya bentuk tanggung jawab atas kerugian yang dialami para korban. (*)

Banner Sponsor

Iklan