Perkuat Kolaborasi Riset dan Pendidikan, MGBKGI Gelar National Congress Perdana di Unhas

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia (MGBKGI) meresmikan gelaran National Congress perdana yang bertempat di Unhas Hotel and Convention, Universitas Hasanuddin, pada Jumat (7/8). Pertemuan tingkat nasional ini dirancang untuk memperkokoh jejaring akademik sekaligus memperluas ruang kerja sama antarperguruan tinggi dalam mengakselerasi pengembangan ilmu pengetahuan, riset, serta pendidikan kedokteran gigi.

Mengangkat tema Academic Leadership in the Digital Era: Inovasi dan Kolaborasi Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia untuk Mewujudkan Riset Berdampak dan Transformasi Pendidikan Tinggi, forum bergengsi ini berhasil menghimpun sebanyak 60 guru besar yang berasal dari 18 institusi pendidikan kedokteran gigi di seluruh Indonesia.

Ketua Panitia Pelaksana, Prof. Rahmi Amtha, drg., MDS., Ph.D., Sp.P.M., Subsp.Noninf., mengungkapkan bahwa pemilihan tema tersebut mencerminkan tekad bersama dalam memperkuat kepemimpinan akademik pada era percepatan transformasi digital. Guru Besar Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta ini menekankan pentingnya sinergi antarinstitusi guna merespons pesatnya kemajuan sains. Kolaborasi tersebut diproyeksikan mampu melahirkan berbagai inovasi, memperluas dampak karya ilmiah, dan mempercepat hadirnya model pendidikan tinggi yang lebih adaptif.

Ia menegaskan, komitmen bersama tersebut tidak hanya berfokus pada penguatan jaringan akademik, tetapi juga menjadi dorongan besar bagi lahirnya riset-riset produktif yang memberi dampak nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan, dunia pendidikan, serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Baca juga: Unhas Raih Pendanaan Hilirisasi Riset Rp31,3 Miliar, Siapkan 67 Inovasi Masuk ke Dunia Industri

Dari sudut pandang keorganisasian, Ketua MGBKGI Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BMMf., Subsp.Ortognat.D., menuturkan bahwa kongres ini sengaja dikemas melalui pendekatan scientific vacation. Konsep ini memberikan kebebasan bagi para pakar untuk saling bertukar ide dalam suasana yang luwes di tengah padatnya beban tugas akademik mingguan. Menurutnya, fokus pada target publikasi dan luaran riset rutin acap kali menyempitkan ruang komunikasi lintas kampus. Melalui skema informal ini, para peserta diharapkan dapat menjalin relasi lebih dekat sekaligus merumuskan agenda penelitian yang selaras dengan kebutuhan warga dan target jangka panjang perguruan tinggi.

Dukungan terhadap semangat kebersamaan ini disuarakan pula oleh Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. Dekan FKG Universitas Gadjah Mada tersebut mengimbau seluruh pengelola fakultas kedokteran gigi di Tanah Air untuk menanggalkan paradigma persaingan yang tertutup.

Ia menyerukan pergeseran fokus dari kompetisi menuju kerja sama penuh, sembari menekankan bahwa tidak boleh ada institusi yang berjuang secara terpisah. Peningkatan mutu dan standar kualitas pendidikan kedokteran gigi, ditegaskannya, harus diusung secara merata dari Sabang hingga Merauke.

Baca juga: Tingkatkan Layanan Publik, Unhas dan UB Berbagi Praktik Baik Tata Kelola

Respon positif juga datang dari pemerintah pusat. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Tenaga Ahli Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad menegaskan kedudukan krusial para profesor sebagai pendorong utama perkembangan sains sekaligus pengawal mutu pendidikan nasional. Menghadapi beragam tantangan di sektor kesehatan gigi dan mulut, institusi pendidikan tinggi dibebani tanggung jawab besar untuk menciptakan terobosan, mempercepat hasil riset, dan memperluas kemitraan agar manfaat penelitian dapat dirasakan langsung oleh publik secara luas.

Sebagai momen puncak, rangkaian pembukaan kongres ditandai dengan peluncuran Ensiklopedia Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia Edisi Pertama. Buku referensi ini merangkum rekam jejak pemikiran, rekapitulasi karya ilmiah, dan rekam kontribusi para guru besar kedokteran gigi Indonesia. Kehadiran publikasi perdana ini diharapkan menjadi arsip bersejarah bagi perkembangan kedokteran gigi nasional sekaligus pedoman akademik yang bernilai bagi generasi peneliti masa depan. (*)

Banner Sponsor

Iklan