MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Keberadaan kutu beras (Sitophilus oryzae) masih menjadi ancaman utama yang merusak kualitas beras selama masa penyimpanan di masyarakat. Di sisi lain, metode pengendalian yang umum digunakan saat ini dinilai masih memiliki berbagai keterbatasan.
Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) merancang sebuah inovasi dinamai ASEGUARD melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K). Produk ini merupakan alat pengendali kutu beras berbentuk gel padat slow-release yang memanfaatkan bahan dasar minyak atsiri gagang cengkeh.
Baca juga: UKM KPI Unhas dan Dinas TPHP Bone Sepakati Kerjasama Pengembangan Pertanian Berbasis Teknologi
Pengembangan inovasi ini didasari oleh mendesaknya kebutuhan akan metode pencegahan hama yang lebih praktis tanpa mengandalkan insektisida sintetis. Meski teknik fumigasi berbahan kimia sintetis terbukti ampuh membasmi populasi hama, penggunaannya kerap memicu kekhawatiran terkait potensi risiko residu pada bahan pangan serta dampak buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Guna menghadirkan solusi yang aman, ASEGUARD memanfaatkan minyak atsiri gagang cengkeh yang kaya akan senyawa aktif eugenol. Kandungan eugenol tersebut diketahui sangat efektif dalam menekan dan mengendalikan perkembangan hama Sitophilus oryzae.
Baca juga: PELNI Makassar Angkut Satu Ton Bantuan Unhas Untuk Korban Gempa NTT
Secara teknis, minyak atsiri tersebut diformulasikan ke dalam matriks berbahan karagenan dan xanthan gum. Formulasi khusus ini menghasilkan sediaan gel padat yang mampu melepaskan kandungan senyawa aktifnya secara bertahap dan berkelanjutan.
Pendekatan penggunaan produk ini terbilang berbeda dari alat pengendali umum yang kerap dicampur langsung ke beras. Gel ASEGUARD dibungkus dalam wadah kantung non-woven berpori, sehingga sediaan produk sama sekali tidak mengalami kontak fisik langsung dengan butiran beras.
Baca juga: Ibu Muda Mengamuk di RS Unhas, Tidak Terima Dituding Sembunyikan Bayi Demi Jenguk Ibu
Keunggulan lain dari inovasi ini terletak pada penggunaan bahannya yang sudah terindikasi food grade dan sepenuhnya bebas dari unsur kimia sintetis. Selain itu, pemanfaatan gagang cengkeh juga bernilai ekologis karena mengolah hasil sampingan pertanian yang sebelumnya kurang termanfaatkan secara maksimal menjadi produk bernilai tambah tinggi berbasis potensi lokal.
Melalui kehadiran ASEGUARD, tim mahasiswa Unhas berharap hasil karya mereka dapat menjadi pilihan utama bagi masyarakat dalam menjaga kualitas stok beras rumah tangga secara praktis, efektif, dan aman. (*)


