MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Rasa tertekan atau berat di dada saat beraktivitas harian sering kali dianggap sekadar kelelahan akibat beban kerja atau perkuliahan. Padahal, tanda-tanda tersebut bisa menjadi indikasi awal serangan jantung yang membutuhkan penanganan medis dengan segera.
Menyambut Hari Jantung Sedunia atau World Heart Day pada 29 September 2026, World Heart Federation mengusung kampanye bertajuk “Don’t Miss a Beat”. Kampanye global ini mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit kardiovaskular, termasuk pada kelompok usia muda.
Data medis menunjukkan bahwa ancaman gangguan jantung kini tidak lagi terbatas pada kelompok lansia. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal JACC: Advances pada 2025 mengungkapkan, dari 4,4 juta kasus rawat inap terkait serangan jantung di Amerika Serikat sepanjang 2011–2021, sebanyak 22 persen atau sekitar 974 ribu pasien berada di rentang usia 18 hingga 54 tahun.
Hasil analisis studi tersebut mencatat bahwa hipertensi ditemukan pada 64,8 persen pasien muda, sementara 57,8 persen di antaranya memiliki riwayat penggunaan tembakau.
Sacara medis, serangan jantung terjadi saat pembuluh darah arteri koroner tersumbat oleh penumpukan plak lemak yang pecah hingga membentuk bekuan darah. Hal ini berbeda dari henti jantung, yang disebabkan oleh gangguan sistem listrik organ jantung sehingga fungsi pemompaan darah berhenti secara mendadak.
Masyarakat disarankan untuk mengenali gejala serangan jantung yang kerap tidak memicu nyeri hebat. Tanda-tanda umum meliputi rasa tertekan di bagian tengah dada, nyeri yang menjalar ke lengan, leher, atau punggung, hingga munculnya keringat dingin, mual, serta pusing.
Apabila gejala tersebut muncul, pertolongan medis darurat melalui layanan panggilan 119 atau fasilitas kesehatan terdekat harus segera diakses. Penundaan penanganan untuk memastikan gejala secara mandiri dapat berakibat fatal bagi keselamatan jiwa.
Gaya hidup sehat seperti menghentikan kebiasaan merokok, menjaga pola makan, serta melakukan pemeriksaan berkala terhadap tekanan darah, gula darah, dan kolesterol tetap menjadi langkah pencegahan utama. Penggunaan perangkat jam pintar (smartwatch) juga diingatkan hanya berfungsi sebagai pemantau pendukung dan bukan sarana diagnosis medis resmi. (*)



