Kematian Teknisi Lab di Siberia Picu Kewaspadaan Internasional Terhadap Pes Pneumonik

Ilustrasi: Dua petugas kesehatan masyarakat menyuntikkan bakteri penyebab pes, Yersinia pestis, ke seekor marmot dan seekor hewan pengerat kecil yang tidak teridentifikasi dalam sebuah penelitian di San Francisco, California, pada 1965. (Sumber: bbccom/Foto: Smith Collection/Gado/Getty Images, gambar milik CDC)

MENITNEWS.CO.ID, IRKUTSK — Kematian seorang teknisi laboratorium perempuan di Siberia, Rusia, memicu perhatian global setelah otoritas kesehatan setempat memantau hampir 200 orang yang sempat melakukan kontak erat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington tengah mencermati situasi tersebut secara serius. Kendati demikian, ia menyebut belum ada pembahasan khusus dengan pihak Kremlin mengenai potensi penyebaran risiko wabah.

“Kami prihatin mereka mengalaminya. Kami akan membantu. Siapa pun yang menghadapi masalah seperti itu, kami akan selalu membantu,” ujar Trump, sebagaimana dikutip dari laporan BBC News Indonesia.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan bahwa pihaknya mengawasi perkembangan kasus ini secara saksama di tengah kekhawatiran potensi penularan pes pneumonik secara internal. Walau demikian, ia menegaskan belum ada alasan bagi publik untuk merasa panik.

Korban jiwa yang dilaporkan media Rusia bernama depan Daria dan berusia akhir 20-an tersebut sempat melawat ke wilayah Buryatia, yang berbatasan langsung dengan Mongolia. Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, menyatakan bahwa penyebab resmi kematian korban adalah pneumonia dengan etiologi yang belum dapat dipastikan.

Menurut Kobzev yang merujuk pada data badan pengawas kesehatan Rospotrebnadzor, tim keamanan hayati telah melakukan pemeriksaan menyeluruh di Institut Anti-Wabah Siberia dan Timur Jauh di Irkutsk. Hasil inspeksi menunjukkan tidak ada situasi darurat maupun staf lain yang mencari pertolongan medis sejak insiden tersebut.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, turut mengimbau masyarakat agar mengabaikan rumor yang beredar dan berpedoman penuh pada keterangan resmi Rospotrebnadzor.

Ancaman dan Karakteristik Bakteri

Bakteri penyebab penyakit pes, yakni Yersinia pestis, secara historis dikenal sebagai agen biologis di balik pandemi “Black Death” pada abad ke-14 yang menewaskan hingga separuh populasi Eropa. Di alam, bakteri ini lazim ditemukan pada hewan pengerat seperti marmot.

Dr Simon Clarke, profesor madya mikrobiologi seluler di University of Reading, menjelaskan kepada BBC Radio 4 bahwa pes pneumonik memiliki tingkat kefatalan yang sangat tinggi jika diabaikan tanpa penanganan antibiotik. Namun, ia memastikan bahwa penyakit ini dapat disembuhkan dan tidak akan memicu krisis berskala luas seperti pandemi Covid-19.

“Pes pneumonik dapat menular dari orang ke orang dan itulah yang menimbulkan kekhawatiran,” ujar Clarke, sembari menegaskan bahwa keberadaan patogen ini di alam masih menjadi ancaman kesehatan yang memerlukan riset ketat. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan