MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Sektor pertanian di Sulawesi Selatan menghadapi tantangan klasik berupa ketersediaan air saat musim kemarau panjang melanda. Untuk menjaga kesinambungan produksi pangan, pemanfaatan energi listrik untuk sistem pompanisasi irigasi mulai diandalkan di sejumlah wilayah sentra produksi.
Salah satu implementasi nyata terlihat di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang. Di wilayah ini, sekitar 395 hektare lahan pertanian yang dikelola oleh 13 kelompok tani memanfaatkan sumur bor bertenaga listrik guna mengairi lahan persawahan ketika pasokan air dari Bendung Takkalasi mulai menyusut.
Peningkatan Hasil Panen Melalui Efisiensi Irigasi

Penggunaan pompa air elektrik memberikan alternatif praktis bagi petani agar tidak sepenuhnya bergantung pada bahan bakar minyak konvensional. Langkah ini dinilai membantu menekan biaya operasional harian sekaligus memastikan ketersediaan air yang lebih terencana bagi tanaman padi.
Berdasarkan data operasional, produktivitas pertanian di wilayah tersebut pada panen Agustus 2026 tercatat mencapai sekitar 10,4 ton per hektare. Angka ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan musim tanam sebelumnya yang berada di kisaran 7 ton per hektare, didukung kombinasi optimalisasi lahan, bantuan benih, dan ketersediaan sumber air yang memadai.
Ekspansi Program Electrifying Agriculture

Penerapan teknologi pengairan tersebut merupakan bagian dari program Electrifying Agriculture yang dikembangkan oleh PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar). Program ini ditujukan untuk memperluas akses energi bagi sektor produktif seperti pertanian, perkebunan, dan peternakan.
Berdasarkan catatan PLN UID Sulselrabar hingga September 2026, jumlah pelanggan yang memanfaatkan program ini telah mencapai 4.438 pelanggan. Total daya tersambung tercatat sebesar 208.553,3 kiloVolt Ampere (kVA) di wilayah kerja tersebut.
Komitmen dan Sinergi Lintas Sektor

General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, menyampaikan bahwa pemanfaatan energi listrik di sektor agrikultur diarahkan untuk memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat luas. Pihaknya menyatakan bahwa momentum peringatan Hari Listrik Nasional ke-81 menjadi pengingat pentingnya peran energi dalam menggerakkan sektor produktif.
“Melalui Electrifying Agriculture, kami mendorong pemanfaatan listrik yang lebih produktif dan efisien guna membantu petani menekan biaya operasional, meningkatkan hasil pertanian, serta memperkuat ketahanan pangan,” ujar Didik melalui keterangan tertulis yang diterima, Minggu (11/10/2026).
Didik juga menekankan bahwa keberhasilan modernisasi pertanian memerlukan kolaborasi erat antara pihak PLN, pemerintah daerah, kelompok tani, serta para pemangku kepentingan terkait. Sinergi ini diperlukan untuk memastikan ketersediaan infrastruktur kelistrikan yang selaras dengan kebutuhan riil di lapangan, guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (*)



