MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Dunia pendidikan dan industri kecantikan Indonesia kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Dr.(HC) Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group sekaligus tokoh nasional, wafat pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Kabar duka tersebut disampaikan secara resmi oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui akun Instagram @unj_official. Pihak kampus mengenangnya sebagai salah satu alumni terbaik dari IKIP Jakarta—nama lama institusi tersebut.
“Rektor dan keluarga besar UNJ menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Dr.(HC) Martha Tilaar,” demikian keterangan tertulis yang diunggah melalui akun resmi @unj_official pada Rabu.
Sebelum dikenal sebagai pengusaha kosmetik, Martha meniti karier sebagai pendidik. Ia sempat mendedikasikan diri sebagai guru sekolah dasar serta mengajar di IKIP Jakarta.
Langkah besar dalam hidupnya dimulai pada 1964 ketika ia mendampingi suaminya, Henry Alex Rudolf Tilaar, bermukim di Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam tersebut, ia memperdalam bidang tata rias dengan menempuh studi di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, sembari bekerja di Campes Beauty Salon.
Sekembalinya ke tanah air pada 1969, Martha merintis usaha mandiri di garasi rumah ayahnya, Yakob Handana. Dengan memanfaatkan ruangan berukuran 6 x 4 meter di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ia mendirikan Martha’s Salon yang kemudian merambah pasar lokal hingga membuka cabang kedua di Cipete, Jakarta Selatan.
Memasuki dekade 1970-an, Martha mulai mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam layanan komersialnya. Ia mendalami pemanfaatan bahan-bahan alami tradisional, termasuk jamu, sebagai landasan pengembangan produk kecantikan yang berciri khas Nusantara.
Inovasi tersebut membawa usahanya bertransformasi dari skala mikro menjadi industri manufaktur besar. Pada 1981, ia mendirikan pabrik produksi di kawasan Pulogadung, Jakarta.
Konsistensinya dalam melestarikan budaya dan tradisi lokal melalui industri kecantikan diganjar apresiasi tinggi oleh negara. Pemerintah menganugerahinya Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma pada 2016.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih menghimpun informasi lanjutan mengenai rangkaian prosesi penghormatan terakhir bagi sang tokoh nasional. (*)



