Kemenkes Investigasi Komentar Nirempati Diduga Nakes Terhadap Pasien BPJS yang Meninggal

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ketika menjelaskan terkait aplikasi SATUSEHAT di Kantor Kementerian Kesehatan, Selasa (4/8/2026). (Sumber: Kompascom/Febryan Kevin/Kompas.com)

MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerjunkan tim Inspektorat Jenderal (Irjen) untuk mengusut dugaan komentar tidak berempati yang dilontarkan oleh oknum tenaga kesehatan di media sosial. Sorotan publik ini muncul setelah seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan mengeluhkan panjangnya waktu tunggu ruang perawatan sebelum akhirnya dikabarkan meninggal dunia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi bahwa proses audit internal tengah berjalan untuk memverifikasi identitas serta status kepegawaian para oknum yang terlibat. Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, salah satu pihak yang berkomentar miring tersebut disinyalir masih berstatus sebagai pelajar atau peserta didik.

“Untuk tindakan selanjutnya, nanti kita akan cek apakah yang bersangkutan statusnya itu pegawai atau masih pelajar. Ya, ada satu yang saya dengar statusnya masih pelajar. Sekarang tim dari Irjen sudah saya minta untuk turun mengaudit. Harusnya dalam minggu ini nanti sudah ada hasilnya,” ujar Budi saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip dari Kompascom, Kamis (6/8/2026) malam.

Menkes menegaskan pentingnya hasil pemeriksaan lapangan sebelum pemerintah mengambil tindakan formal. Pihaknya enggan terburu-buru menentukan bentuk sanksi sebelum seluruh fakta lapangan terkumpul secara berimbang. Menurutnya, pemetaan masalah secara menyeluruh menjadi fokus utama tim pemeriksa saat ini.

Di sisi lain, Budi menyampaikan keprihatinan mendalam atas perilaku oknum melayani masyarakat yang dinilai tidak mencerminkan etika profesi. Ia menekankan bahwa empati merupakan fondasi utama bagi setiap tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada publik. Pasien yang sedang membutuhkan pertolongan medis tidak sepantasnya mendapat respons yang menyudutkan.

“Saya sedih sekali melihat tenaga kesehatan dan juga tenaga-tenaga profesi lainnya. Yang melayani masyarakat itu harus memiliki empati. Kasihan pasien-pasien kita kalau kita nirempati seperti itu,” tuturnya.

Polemik ini bermula dari unggahan akun Threads milik Yurizal Tri Chaerawan pada Rabu (22/7/2026). Dalam hantaran tersebut, pemilik akun menceritakan pengalamannya menanti kepastian ruang perawatan hingga delapan jam. Ia sengaja tidak membeberkan nama fasilitas kesehatan tempatnya dirawat dengan alasan menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan.

Baca juga: RSUD Daya Makassar Gelar Monev BASTO Alat Kesehatan dan Kesiapan Layanan CVCU

Unggahan mengenai keluhan pelayanan medis tersebut lantas memicu respons luas setelah dikutip media Tribun Style pada Rabu (5/8/2026). Di antara riuh tanggapan warganet, muncul sejumlah komentar sinis dari akun-akun yang disinyalir milik oknum dokter hingga perawat.

Salah satu komentar yang menuai kecaman publik ditulis oleh akun yang diduga milik seorang dokter, dengan kalimat bernada sindiran terhadap kondisi sosial ekonomi pasien. Senada dengan itu, akun lain yang disinyalir milik perawat turut menyumbang tanggapan yang dinilai ketiadaan rasa empati. Sikap para oknum tersebut memicu gelombang kritik keras dari masyarakat yang menilai respons tersebut tidak etis dan mencederai integritas profesi medis. (*)

Banner Sponsor

Iklan