Ilmuwan Manfaatkan Hiu Atlantik Utara untuk Tingkatkan Akurasi Prediksi Badai

Hiu digunakan sebagai "stasiun pengamatan" bergerak, membantu para ilmuwan memprediksi kekuatan badai. (Sumber: Vietnam.vn/Foto: Unsplash)

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Para peneliti kini memanfaatkan perilaku alami hiu di Atlantik Utara untuk mengumpulkan data suhu dan salinitas air laut. Langkah inovatif ini diambil guna meningkatkan akurasi prediksi intensitas badai yang kerap mengancam kawasan Pantai Timur Amerika Serikat.

Penelitian ini memfokuskan pemantauan pada beberapa spesies hiu yang aktif bergerak di samudra, seperti hiu mako sirip pendek, hiu biru, hiu martil halus, dan hiu putih besar muda. Penggunaan satwa laut ini dinilai jauh lebih efisien dibandingkan mengandalkan kapal penelitian atau instrumen pemantau tetap yang memiliki keterbatasan jangkauan.

Aaron Carlisle, profesor di Universitas Delaware sekaligus peneliti utama proyek ini, menjelaskan bahwa hiu memiliki keunggulan alami karena persebarannya yang luas dan mobilitasnya yang tinggi. Menurutnya, beberapa spesies bahkan mampu menyelam hingga ke kedalaman perairan yang sulit dijangkau oleh peralatan pemantauan konvensional.

Baca juga: Perayaan Hari Kucing Sedunia 8 Agustus: Sejarah Panjang hingga Aksi Nyata Peduli Anabul

Secara teknis, para ilmuwan memasangkan perangkat CTD (Conductivity, Temperature, Depth) pada bagian sirip punggung hiu. Alat khusus ini berfungsi mencatat suhu, kedalaman, serta konduktivitas listrik air laut untuk menghitung tingkat salinitas.

Prosedur pemasangan alat dirancang sangat aman dan berlangsung singkat, yakni kurang dari lima menit. Sebelum dilepaskan kembali ke habitatnya, kondisi kesehatan hiu diperiksa terlebih dahulu. Perangkat tersebut juga akan terlepas secara otomatis setelah periode waktu tertentu untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan satwa.

Setiap kali hiu naik ke permukaan laut, perangkat CTD secara otomatis memancarkan data terukur langsung ke satelit. Informasi real-time yang ditransmisikan oleh “stasiun pemantauan terapung” ini kemudian diintegrasikan ke dalam model peramalan cuaca dan pemodelan iklim.

Pengukuran suhu laut menjadi elemen krusial dalam peramalan cuaca ekstrem, mengingat air laut yang semakin hangat mampu menyuplai lebih banyak energi panas ke dalam sistem badai. Data yang diperoleh dari hiu membantu para ilmuwan mengalkulasi potensi penguatan badai saat bergerak mendekati daratan.

Melalui skema pemantauan berbasis satwa ini, para peneliti berharap kualitas prediksi badai dapat meningkat secara signifikan. Data yang lebih akurat akan memberikan waktu dan persiapan yang lebih baik bagi masyarakat di kawasan pesisir dalam menghadapi ancaman badai dahsyat. (*)

Banner Sponsor

Iklan