MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa, mengajak para mubalig mengambil peran aktif dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dan mengelola sampah dari sumbernya.
Ajakan tersebut disampaikan Melinda, saat menjadi narasumber dalam Diskusi Bulanan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Masjid Mushalla Indonesia Muttahidah (DPP IMMIM) bertema “Muballigh dan Spirit Kemerdekaan untuk Makassar Bersih” di Gedung 2 IMMIM, Kamis (20/8/2026).
Melinda menilai, para mubalig memiliki posisi strategis karena dapat menyampaikan pesan tentang kebersihan dan kepedulian lingkungan melalui ruang-ruang keagamaan.
Menurutnya, persoalan sampah di Kota Makassar tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat, tokoh agama, dunia usaha, hingga berbagai kelompok sosial.
“Ini bukan hanya kebijakan pemerintah kota atau kebijakan Wali Kota. Ini merupakan instruksi dari Pemerintah Pusat yang harus dilaksanakan oleh kota-kota besar di Indonesia. Karena itu, kita semua harus bergerak bersama,” ujar Melinda.
Melinda menjelaskan, tantangan pengelolaan sampah Makassar semakin besar seiring percepatan kebijakan pemilahan sampah sehingga hanya residu yang diperbolehkan masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Kondisi tersebut, kata dia, tidak hanya membutuhkan kesiapan infrastruktur, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat, terutama di tingkat rumah tangga.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 60 persen sampah yang masuk ke TPA merupakan sampah organik, terutama sampah rumah tangga dan sisa makanan. Sementara sampah plastik berada di bawah 20 persen.
Karena itu, menurut Melinda, persoalan sampah tidak boleh hanya dilihat dari sampah plastik. Pengurangan sampah organik dari sumbernya juga harus menjadi perhatian utama.
“Kalau kita bisa menyelesaikan sampah dari rumah, dari RT dan RW, maka sampah yang keluar ke kecamatan akan semakin sedikit. Sampah yang sampai ke TPA juga akan semakin berkurang,” jelasnya.
Baca Juga : SMEP TP PKK 2026 di Kecamatan Wajo, Melinda Aksa Tekankan Evaluasi dan Penguatan Kader
Untuk memperkuat pengelolaan sampah dari hulu, Pemerintah Kota Makassar bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kecamatan, Kelurahan dan berbagai unsur masyarakat, terus memperkuat koordinasi.
Salah satu perkembangan yang dinilai signifikan adalah pertumbuhan Bank Sampah Unit (BSU) di berbagai wilayah Kota Makassar.
Melinda menyebut jumlah BSU yang sebelumnya berada di kisaran 300 unit kini telah berkembang mendekati 700 unit. Pertumbuhan tersebut tidak hanya berasal dari pembentukan unit baru, tetapi juga semakin aktifnya bank sampah yang telah terbentuk sebelumnya.
Ia mengakui, penerapan kebijakan pemilahan dan pengurangan sampah sempat menghadirkan tantangan di lapangan. Tingginya volume sampah pada tahap awal membuat sejumlah wilayah harus beradaptasi dengan cepat.
Namun, kondisi itu sekaligus memunculkan berbagai inovasi masyarakat dalam mengelola sampah, khususnya sampah organik.
Sejumlah kelurahan, kata Melinda, mulai mengembangkan berbagai metode sederhana untuk menangani sampah organik, mulai dari menggali dan menimbun hingga mencari lokasi alternatif pengelolaan sampah organik di lingkungan masing-masing.
“Memang di awal kita sempat kewalahan karena volume sampah yang masuk cukup tinggi. Tetapi kemudian kita melihat masyarakat mulai beradaptasi dan muncul berbagai inovasi di tingkat Kelurahan,” tutur Melinda Aksa.

Melinda Aksa menegaskan, pemilahan sampah sebenarnya dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah masing-masing.
Masyarakat, kata dia, tidak perlu membeli tempat sampah baru untuk menerapkan kebiasaan tersebut. Wadah yang sudah tersedia di rumah dapat dimanfaatkan dengan memberikan label sesuai jenis sampah.
“Tidak perlu membeli tempat sampah baru. Gunakan saja wadah yang ada di rumah, kemudian kita bagi menjadi tiga, organik, anorganik dan residu. Yang penting dilakukan setiap hari,” katanya.
Menurut Melinda, kebiasaan sederhana tersebut akan memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.
Semakin banyak sampah yang selesai ditangani dari rumah, semakin kecil pula volume sampah yang harus diangkut dan diproses di tingkat Kecamatan hingga TPA.
Dalam kesempatan tersebut, Melinda juga memaparkan perkembangan pembenahan TPA di Kota Makassar yang saat ini disebut telah mencapai sekitar 91 persen.
Pembenahan tersebut sebelumnya mendapat perhatian Menteri Lingkungan Hidup yang melakukan kunjungan dan memberikan apresiasi terhadap progres yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar.
Pemerintah berharap pembenahan tersebut dapat memenuhi ketentuan pengelolaan TPA dengan sistem sanitary landfill dan menjadi bagian dari upaya penyelesaian persoalan lingkungan yang sebelumnya memicu sanksi administratif.
Melinda juga menyebut kondisi lingkungan di sekitar area TPA yang telah dibenahi menunjukkan perkembangan positif. Keluhan warga terkait bau yang sebelumnya kerap dirasakan disebut mulai berkurang, termasuk pada pagi dan sore hari ketika arah angin membawa aroma dari kawasan TPA.
Melinda menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur.
Perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penting untuk memastikan kebijakan persampahan berjalan secara berkelanjutan.
Karena itu, ia berharap para mubalig dapat menjadi bagian dari gerakan edukasi lingkungan di tengah masyarakat.
Nilai-nilai keagamaan seperti kebersihan, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama dan menjaga lingkungan, menurut Melinda, dapat diterjemahkan menjadi gerakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Ini adalah langkah baik untuk memulai kebiasaan baru. Kalau bukan kita yang memulai dari sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” tegasnya.
Baca Juga : Melinda Aksa Dorong Tenun Jadi Warisan Budaya Sekaligus Penggerak Ekonomi Kreatif Makassar
Ia berharap diskusi bersama DPP IMMIM dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama dan masyarakat dalam membangun budaya hidup bersih.
Melinda menilai semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui perayaan, tetapi juga keberanian masyarakat untuk mengubah kebiasaan dan mengambil tanggung jawab bersama terhadap lingkungan.
“Spirit kemerdekaan juga berarti kita berani berubah. Mari kita mulai dari hal yang paling sederhana, memilah sampah dari rumah dan menjaga lingkungan kita bersama,” pungkas Melinda Aksa. (*)

