MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk (Vale), membukukan kinerja operasional dan keuangan yang solid sepanjang triwulan kedua tahun 2026 (2T26). Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan volume produksi, penguatan harga nikel global, serta disiplin operasional dan efisiensi biaya.
Berdasarkan laporan resmi Perseroan yang dirilis Rabu (29/7/2026), PT Vale berhasil mengantongi laba bersih sebesar AS61 juta pada 2T26.
Angka ini melonjak 39 persen dibandingkan triwulan sebelumnya (1T26) yang tercatat sebesar AS44 juta. Kenaikan laba tersebut juga sejalan dengan EBITDA Perseroan yang tumbuh signifikan 45 persen secara quarter-on-quarter (QoQ) menjadi AS$116 juta.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale, Bernardus Irmanto, mengungkapkan bahwa capaian positif ini mencerminkan keberhasilan strategi operasional serta ekspansi kapasitas pertambangan Perseroan.
”Didukung oleh disiplin dalam pelaksanaan operasional serta keberlanjutan peningkatan kapasitas operasi penambangan, PT Vale tetap berada pada posisi yang baik untuk menciptakan nilai berkelanjutan di tengah dinamika pasar yang terus berlangsung,” ujarnya.
Produksi dan Penjualan Nikel Meningkat
Dari sisi operasional, volume produksi nikel dalam matte pada 2T26 mencapai 16.153 metrik ton (ton), naik 19 persen dibandingkan 13.620 ton pada 1T26. Dengan hasil ini, total produksi nikel matte PT Vale pada semester pertama 2026 (1H26) secara akumulatif mencapai 29.773 ton.
Peningkatan produksi nikel matte ini dipicu oleh selesainya proyek Pembangunan Kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026 lalu, yang memperkuat keandalan operasional pabrik pengolahan di Sorowako.
Selain nikel matte, ekspansi pada bisnis bijih nikel (nickel ore) di tiga hub pertambangan—Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa—juga menunjukkan tren pertumbuhan kuat:
Blok Bahodopi: Membukukan penjualan bijih nikel saprolit sebesar 1,07 juta wet metric ton (wmt) pada 2T26, naik dari 886 ribu wmt pada triwulan sebelumnya. Total penjualan semester pertama mencapai 1,96 juta wmt.

Blok Pomalaa: Mencatatkan lonjakan tajam penjualan bijih nikel menjadi 495.601 wet metric ton (wmt) di 2T26, berbanding jauh dari 89 ribu wmt pada 1T26. Kumulatif penjualan di 1H26 mencapai 584.584 wmt.
Di saat yang sama, harga realisasi rata-rata nikel matte Perseroan membaik menjadi AS14.765 per ton (naik 4% QoQ dari AS10.382/ton), yang mendorong total pendapatan 2T26 mencapai AS$290 juta, atau tumbuh 15 persen dari 1T26.
Percepat Agenda Hilirisasi dan Ekosistem Baterai EV
Untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, PT Vale merealisasikan belanja modal (capital expenditure) sebesar AS116 juta pada 2T26. Per 30 Juni 2026, posisi kas dan setara kas Perseroan tetap solid di angka AS111 juta.
Langkah strategis hilirisasi nasional juga terus dipacu. Pada 22 Juli 2026, PT Vale bersama mitra globalnya, GEM Co., Ltd. dan EcoPro, merayakan kedatangan autoclave untuk Proyek High-Pressure Acid Leach (HPAL) Sambalagi dalam acara BNSI Autoclave Delivery Ceremony. Proyek ini merupakan komponen utama Indonesia Growth Project (IGP) Morowali.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani.
Bernardus Irmanto menegaskan, kedatangan fasilitas autoclave menjadi milestone penting bagi integrasi rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di tanah air.
”Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia. Ke depan, Perseroan akan terus mempercepat pengembangan proyek-proyek HPAL untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP),” pungkas CEO PT Vale Indonesia, Bernardus. (*)

