MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Bank Sulselbar), mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026.
Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp308,39 miliar, tumbuh 24,59 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp247,52 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan Bank Sulselbar yang dipublikasikan di salah satu media cetak nasional edisi Rabu (26/8/2026), peningkatan laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan komisi serta keberhasilan perseroan menekan beban operasional.
Pendapatan bunga bersih Bank Sulselbar pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp804,37 miliar, meningkat tipis 0,87 persen YoY dibandingkan Rp797,45 miliar pada semester I 2025.
Sementara itu, pendapatan komisi dan provisi tumbuh lebih tinggi, yakni 5,66 persen YoY, dari Rp162,36 miliar menjadi Rp171,56 miliar.
Dari sisi efisiensi, Bank Sulselbar berhasil menurunkan beban operasional lainnya sebesar 14,10 persen YoY menjadi Rp402,44 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, beban operasional lainnya tercatat Rp468,52 miliar.
Penurunan signifikan juga terjadi pada komponen impairment. Beban impairment menyusut 65,97 persen, dari Rp191,95 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp65,33 miliar pada semester I 2026.
Kinerja tersebut turut mendorong pertumbuhan laba operasional Bank Sulselbar sebesar 22,20 persen YoY menjadi Rp401,93 miliar. Meski demikian, perseroan masih mencatatkan rugi nonoperasional sebesar Rp6,55 miliar.
Dari sisi intermediasi, total kredit yang disalurkan Bank Sulselbar hingga semester I 2026 mencapai Rp21,57 triliun.
Angka tersebut turun 1,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp21,81 triliun.
Di tengah penurunan penyaluran kredit, total aset perseroan justru tumbuh 8,46 persen YoY menjadi Rp35,10 triliun. Pada semester I 2025, total aset Bank Sulselbar tercatat Rp32,36 triliun.
Dana yang dihimpun perseroan juga mengalami pertumbuhan. Total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 3 persen YoY menjadi Rp22,53 triliun.
Pertumbuhan DPK terutama ditopang oleh peningkatan simpanan giro dan tabungan. Simpanan giro tumbuh 6,37 persen menjadi Rp6,71 triliun, sedangkan tabungan meningkat 14,11 persen menjadi Rp6,78 triliun.
Dari sisi permodalan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) Bank Sulselbar meningkat dari 27,28 persen pada semester I 2025 menjadi 27,60 persen pada semester I 2026.
Namun, kualitas kredit masih menjadi salah satu indikator yang perlu mendapat perhatian. Rasio kredit bermasalah atau NPL gross meningkat menjadi 3,59 persen dari sebelumnya 3,13 persen.
Sementara itu, NPL net naik dari 0,98 persen menjadi 1,47 persen.
Pada periode yang sama, net interest margin (NIM) Bank Sulselbar turun dari 5,11 persen menjadi 4,89 persen.
Meski demikian, indikator efisiensi operasional menunjukkan perbaikan. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) turun dari 79,29 persen pada semester I 2025 menjadi 73,29 persen pada semester I 2026.
Penurunan BOPO tersebut mencerminkan semakin efisiennya pengelolaan biaya operasional perseroan dan menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan laba Bank Sulselbar pada paruh pertama 2026.
Dengan laba bersih Rp308,39 miliar hingga Juni 2026, Bank Sulselbar menunjukkan penguatan kinerja terutama dari sisi efisiensi dan pendapatan berbasis komisi, meskipun perseroan masih menghadapi tantangan berupa penurunan penyaluran kredit, kenaikan rasio kredit bermasalah, serta penyempitan margin bunga bersih. (Adv)


