PTPN I Siapkan Investasi Rp26,76 Triliun Untuk Hilirisasi Perkebunan, Bidik Ketahanan Pangan dan Energi

MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) menyiapkan investasi sebesar Rp26,76 triliun, untuk memperkuat hilirisasi perkebunan melalui pengembangan sektor hulu hingga hilir.

Investasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, mendukung ketahanan pangan dan energi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, mengatakan investasi tersebut merupakan bagian dari langkah strategis perusahaan dalam mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya agenda swasembada pangan, ketahanan energi, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

“Sebagai BUMN perkebunan dengan aset lahan dan komoditas sangat besar, PTPN I mengambil inisiatif dalam mendukung program Asta Cita secara sistematis. PTPN I melakukan investasi senilai Rp26,76 triliun,” kata Rivai saat dikonfirmasi, Kamis (22/10/2026).

Menurut dia, sektor pangan dan energi memiliki keterkaitan erat dengan bisnis PTPN I. Karena itu, perusahaan mengarahkan investasi untuk memperkuat seluruh lini usaha, terutama melalui program tanam ulang komoditas perkebunan dan pengembangan industri hilir.

“Investasi tersebut digunakan untuk memperkuat semua lini bisnis, terutama program tanam ulang komoditas dan program hilirisasi komoditas perkebunan,” ujarnya.

Rivai menjelaskan, PTPN I memiliki aset lahan yang luas dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Potensi tersebut menjadi modal penting untuk mendukung agenda swasembada pangan, baik melalui pengembangan komoditas perkebunan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan maupun pemanfaatan lahan yang belum produktif.

Sejumlah komoditas yang dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pangan antara lain tebu sebagai bahan baku gula, kelapa sawit untuk produksi minyak goreng, serta kelapa. Selain itu, lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal juga diarahkan untuk pengembangan tanaman semusim.

“Kami punya sumber daya besar untuk ketahanan pangan, ketahanan energi, dan punya lahan luas untuk mendukung berbagai program hilirisasi bidang pangan,” kata Rivai.

Ia menambahkan, karakter bisnis perkebunan yang padat karya juga memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Dengan jaringan unit kerja yang tersebar hingga pelosok daerah, keberadaan PTPN I dinilai berpotensi mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, termasuk di wilayah yang sebelumnya relatif terisolasi.

Menurut Rivai, keputusan investasi tersebut didasarkan pada analisis data, studi kelayakan bisnis, serta pertimbangan kondisi di lapangan. Pengalaman perusahaan dalam menjalankan usaha berdampingan dengan masyarakat juga menjadi salah satu faktor yang memperkuat optimisme terhadap keberhasilan program tersebut.

PTPN I menyusun rencana investasi Rp26,76 triliun tersebut dalam peta jalan transformasi selama empat tahun, mulai 2025 hingga 2029. Program ini mencakup integrasi bisnis dari sektor hulu hingga hilir untuk berbagai komoditas, termasuk pengembangan usaha di luar sektor agro.

Dari total investasi tersebut, sebesar Rp16,34 triliun dialokasikan untuk sektor hulu atau on-farm, dengan cakupan areal perkebunan mencapai 342.321 hektare.

Sementara itu, Rp10,42 triliun disiapkan untuk membangun 25 fasilitas pengolahan atau off-farm modern yang akan tersebar di sejumlah wilayah strategis di Indonesia.

Melalui skema tersebut, PTPN I menargetkan terbentuknya ekosistem bisnis terintegrasi, mulai dari kegiatan budidaya, pengolahan hasil perkebunan, hingga pengembangan produk bernilai tambah.

Sejumlah komoditas yang menjadi fokus pengembangan skala besar meliputi jagung, kelapa, karet, kopi, kakao, jambu mete, pala, serta komoditas sekunder lainnya.

Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah pemanfaatan jagung tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai bahan baku bioetanol. Pengembangan ini diharapkan dapat membuka peluang diversifikasi produk sekaligus mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).

Untuk memastikan efektivitas investasi, manajemen PTPN I menerapkan sejumlah prinsip dalam pelaksanaan proyek, antara lain studi kelayakan bisnis yang ketat, integrasi rantai pasok dari hulu hingga hilir, serta kepastian pasar melalui pembeli siaga atau off-taker.

Langkah tersebut ditujukan agar setiap proyek memiliki dasar bisnis yang terukur dan dapat berjalan secara berkelanjutan.

PTPN I juga berupaya memastikan transformasi bisnis memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, terutama petani lokal dan pelaku usaha di daerah. Upaya itu dilakukan melalui kemitraan strategis dan skema perkebunan plasma yang menghubungkan petani dengan rantai pasok industri.

Dengan pola kemitraan tersebut, petani diharapkan memperoleh akses pasar yang lebih terjamin, sementara perusahaan dapat memperkuat ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan.

Dari sisi pelaksanaan, pengembangan komoditas di sektor hulu mulai menunjukkan kemajuan.

Hingga awal Oktober 2026, pengembangan areal karet PTPN I telah mencapai 1.479 hektare, sedangkan areal jagung mencapai 1.125 hektare.

Secara keseluruhan, realisasi pengembangan sektor on-farm untuk komoditas unggulan diproyeksikan mencapai 11.516 hektare. Angka tersebut setara dengan sekitar 59–60 persen dari target tahunan hingga akhir 2026.

Melalui investasi Rp26,76 triliun ini, PTPN I menargetkan penguatan bisnis perkebunan yang tidak hanya berorientasi pada produksi bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan dengan nilai tambah lebih tinggi.

Integrasi hulu-hilir tersebut diharapkan memperkuat daya saing industri perkebunan nasional, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan keterlibatan petani lokal, serta mendukung agenda ketahanan pangan dan energi Indonesia. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan