MENITNEWS.CO.ID, MEDAN — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa pembangunan kota yang tangguh harus dimulai dari penguatan sistem penanggulangan bencana yang adaptif serta ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Komitmen tersebut disampaikan saat menghadiri Dialog Kota Tangguh Bersama dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Tahun 2026 di Grand City Hall, Medan, Rabu (1/7/2026).
Menurut Munafri, forum tersebut menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, potensi bencana, hingga menjaga stabilitas pasokan pangan bagi masyarakat.
“Forum ini membahas isu yang sangat strategis, yakni bagaimana pemerintah daerah mengantisipasi berbagai kondisi ekstrem sekaligus mempersiapkan sistem ketahanan pangan yang kuat untuk menghadapi tantangan ke depan,” ujar Munafri.
Dialog Kota Tangguh Bersama merupakan salah satu agenda strategis Rakernas XVIII APEKSI 2026 yang bertujuan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mewujudkan kota-kota yang tangguh, adaptif, dan mampu menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Kegiatan tersebut diikuti kepala daerah dari 98 pemerintah kota di seluruh Indonesia serta menghadirkan perwakilan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Forum ini menjadi wadah kolaborasi untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana sekaligus membangun sistem ketahanan pangan nasional yang lebih kokoh.

Munafri Arifuddin menjelaskan, inisiatif Tangguh Bersama yang digagas Kementerian Dalam Negeri merupakan gerakan kolaboratif nasional untuk membangun budaya tangguh, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta memastikan pelayanan publik tetap berjalan saat kondisi darurat.
Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas pemerintah hingga tingkat kecamatan agar lebih siap, adaptif, dan responsif dalam memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang penanggulangan bencana.
“Ke depan, penguatan kapasitas hingga level kecamatan dan kelurahan menjadi langkah strategis untuk mempercepat respons terhadap kondisi darurat sekaligus memperkuat perlindungan masyarakat,” kata Munafri, yang akrab disapa Appi.
Selain isu kebencanaan, Appi menekankan bahwa ketahanan pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kota yang tangguh. Menurutnya, terdapat empat aspek utama yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah, yakni produksi pangan, rantai pasok, ketersediaan, dan keterjangkauan pangan.
Keempat aspek tersebut, lanjutnya, harus dikelola secara terintegrasi agar pemerintah mampu menjamin kebutuhan masyarakat di tengah tantangan global yang berpotensi memengaruhi distribusi maupun harga pangan.
“Yang harus dibangun adalah sistem ketahanan pangan yang tangguh dan terintegrasi sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan, baik di tingkat lokal maupun nasional,” tutup Munafri Arifuddin. (*)

