MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Penyakit stroke kini tidak lagi hanya membayangi kelompok lanjut usia. Semakin banyaknya anak muda yang terserang stroke menjadi perhatian serius para ahli medis. Penyebab utamanya kerap berkaitan erat dengan gaya hidup, mulai dari pola aktivitas harian yang kurang bergerak hingga kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tertentu.
Riset dan pakar spesialis jantung mengidentifikasi sejumlah kebiasaan sehari-hari yang berpotensi memicu peningkatan risiko stroke. Para ahli mengimbau masyarakat untuk mulai membatasi kebiasaan-kebiasaan tersebut guna menjaga kesehatan pembuluh darah dan organ vital di masa mendatang.

Salah satu pemicu utama yang kerap diabaikan adalah durasi duduk yang terlalu lama. Studi dalam jurnal Annals of Clinical and Translational Neurology (2022) memang mencatat bahwa olahraga teratur dapat memangkas risiko stroke hingga 40 persen. Meski demikian, aktivitas fisik di pagi hari tidak serta-merta menghilangkan efek buruk dari gaya hidup pasif sepanjang sisa hari.
Ahli jantung Samantha Benin menjelaskan kepada EatingWell bahwa rutinitas olahraga satu jam setiap hari menjadi tidak optimal apabila sisa waktu justru dihabiskan untuk duduk di depan layar tanpa jeda bergerak. Kebiasaan duduk berjam-jam secara berulang dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah yang menyuplai oksigen dan nutrisi ke jantung maupun otak.
Selain masalah aktivitas fisik, pola makan tinggi natrium turut menjadi faktor pemicu yang tak kalah berbahaya. Makanan cepat saji seperti sandwich, burger, serta pizza umumnya mengandung kadar garam yang sangat tinggi. American Heart Association mencatat satu porsi makanan cepat saji tersebut bisa melebihi batas asupan natrium harian yang dianjurkan, yaitu sebesar 2.300 mg.

Ahli jantung dan lipidologi, Sirisha Vadali, mengungkapkan bahwa melonjaknya asupan natrium dalam satu kali makan dapat merangsang kenaikan tekanan darah sekaligus merusak kondisi arteri. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, tekanan darah tinggi yang muncul secara perlahan akan menjadi faktor risiko utama terjadinya serangan stroke.
Faktor lain yang patut diwaspadai adalah konsumsi minuman beralkohol. Berdasarkan temuan yang dirangkum Benin, konsumsi alkohol seperti anggur merah—bahkan dalam jumlah sedang—dapat memicu fibrilasi atrium, hipertensi, hingga stroke pada individu tertentu.

Data dari Harvard Health menunjukkan bahwa konsumsi alkohol berkontribusi terhadap delapan persen dari total kasus stroke akibat penyumbatan pembuluh darah otak. Selain itu, alkohol juga menjadi pemicu pada 16 persen kasus stroke akibat pendarahan. Untuk menekan risiko tersebut, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan batas konsumsi harian maksimal satu gelas untuk perempuan dan dua gelas untuk laki-laki.
Membatasi ketiga kebiasaan tersebut serta menerapkan gaya hidup sehat dan menjaga asupan gizi seimbang merupakan langkah krusial dalam meminimalisasi risiko serangan stroke sejak dini. (*)

